<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pemburu &#039;Ilmu</title>
	<atom:link href="http://aruhuriyya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aruhuriyya.wordpress.com</link>
	<description>.::. live in this world as traveller or a stranger  .::.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Jan 2012 10:12:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aruhuriyya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pemburu &#039;Ilmu</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aruhuriyya.wordpress.com/osd.xml" title="Pemburu &#039;Ilmu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aruhuriyya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>WAHAI SAUDARIKU MUSLIMAH SELAMATKAN DIRIMU DARI SIKSAAN NERAKA</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2012/01/21/wahai-saudariku-muslimah-selamatkan-dirimu-dari-siksaan-neraka/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2012/01/21/wahai-saudariku-muslimah-selamatkan-dirimu-dari-siksaan-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 10:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kewanitaan]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[ Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:  قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ  &#8221;Aku pernah berdiri di pintu surga, maka keumuman orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Orang-orang yang berharta tertahan ( untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=438&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2012/01/daisy-candles_l.jpg"> Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda:</a></p>
<div dir="RTL"><em> </em>قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينَ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُونَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ</div>
<div dir="LTR"> &#8221;Aku pernah berdiri di pintu surga, maka keumuman orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Orang-orang yang berharta tertahan ( untuk di hisab ) kecuali yang menjadi penduduk neraka, mereka diperintahkan memasuki neraka. Dan aku pernah berdiri di pintu neraka , ternyata kebanyakan orang yang memasukinya adalah kaum wanita &#8221; . <a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn1">[1]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR"><strong>           </strong>Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkata<strong> :</strong></div>
<div dir="RTL"> اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ</div>
<div dir="LTR"> &#8221;Aku pernah memperhatikan surga , maka aku lihat kebanyakan penduduknya adalah kaum fakir. Dan aku pernah memperhatikan neraka , maka aku lihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita &#8221; . <a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn2">[2]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">Dalam suatu atsar disebutkan:</div>
<div dir="RTL">كَانَ لِمُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ امْرَأَتَانِ فَجَاءَ مِنْ عِنْدِ إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ الْأُخْرَى جِئْتَ مِنْ عِنْدِ فُلَانَةَ فَقَالَ جِئْتُ مِنْ عِنْدِ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ فَحَدَّثَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَقَلَّ سَاكِنِي الْجَنَّةِ النِّسَاءُ</div>
<div dir="LTR">Bahwasanya Mutharrif bin Abdullah memiliki dua istri, ketika dia datang dari sisi salah satu dari keduanya, maka istri yang lain berkata : “Engkau datang dari sisi Fulanah”. Maka dia berkata : “Saya datang dari sisi Imran bin Husain, dia telah mengabarkan kepada kami bahwasanya rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : &#8221; Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah kaum wanita&#8221; .<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn3">[3]</a></div>
<div dir="LTR">           Kaum wanita menjadi mayoritas penduduk neraka disebabkan perbuatan-perbuatan mereka .</div>
<div dir="RTL"></div>
<div dir="RTL"></div>
<div dir="RTL"></div>
<p>ولا يظلم ربك أحدا</p>
<div dir="LTR"> <em>&#8221; Dan Tuhanmu tidak </em><em>m</em><em>enganiaya seorang juapun</em>&#8220;. Al Kahfi : 49 .</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR"> Al Imam Al Qurtubi berkata : &#8221; Sesungguhnya kaum wanita sebagai minoritas penduduk surga karena dikuasai oleh hawa nafsu, cenderung kepada perhiasan dunia yang sementara, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka serta cepat tertipu &#8221; .</div>
<div dir="LTR">Beliau shalallahu alaihi wasallam berkata<strong> :</strong></div>
<div dir="RTL"> يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ , فَقُلْنَ :  وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟  قَالَ :  تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ,  وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ ,  مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ , قُلْنَ : وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟  قَالَ : أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ ؟  قُلْنَ :  بَلَى .  قَالَ :  فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا.  أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ ؟  قُلْنَ :  بَلَى .  قَالَ :  فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا<em>.</em><em>       </em></div>
<div dir="LTR">&#8221; Wahai kaum wanita bersedekahlah kalian, sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku bahwa kalian sebagai mayoritas penduduk neraka. Maka mereka ( kaum wanita ) berkata : Disebabkan apa wahai rasulullah ? Beliau berkata : Kalian banyak melaknat  dan mengingkari kebaikan keluarga ( suami ). Aku tidaklah melihat kaum yang kurang akal dan agamanya, yang dapat menghilangkan akal seorang laki-laki yang kokoh hatinya, selain salah seorang dari kalian . Mereka berkata : Apa yang dimaksud dengan kurang agama dan akalnya wahai rasulullah? Beliau berkata : Bukankah persaksian seorang wanita seperti setengah persaksian seorang laki-laki? Mereka berkata : Benar. Maka beliau berkata ; Demikianlah yang menunjukkan kekurangan akalnya . Bukankah jika dia haidh tidak shalat dan tidak puasa? Mereka berkata ; Benar . Beliau berkata : Inilah yang menunjukkan kekurangan agamanya &#8220;.<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn4">[4]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">
<div dir="LTR">Di dalam hadis ini beliau shalallahu alaihi wasallam memberitakan kepada kita tentang beberapa perbuatan kaum wanita yang menyebabkan mereka menjadi mayoritas penduduk neraka , yaitu :</div>
<div dir="LTR">-          Banyak berkata dengan perkataan yang jelek seperti melaknat dan mencela , dan ini tergolong perbuatan dosa besar .</div>
<div dir="LTR">-          Mengingkari kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh suami kepadanya yang berarti dia telah kufur nikmat. Mengkufuri nikmat adalah diharamkan .</div>
<div dir="LTR">-          Menjadikan hilangnya akal seorang laki-laki sehingga dia berkata dan berbuat yang tidak pantas untuk menyenangkannya, maka wanita tersebut ikut mendapatkan dosanya .</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">Beberapa perbuatan dosa yang lain yang dilakukan oleh kebanyakan kaum wanita di masa kini , diantaranya :</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Menyerupai kaum laki-laki dalam berpakaian dan berhias. Ini adalah perbuatan dosa besar karena rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah melaknat kaum wanita yang menyerupai kaum laki-laki dan sebaliknya.</div>
<div dir="LTR">Dalam satu hadits disebutkan :</div>
<div dir="RTL">لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَال</div>
<div dir="LTR">Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan wanita yang menyerupai kaum laki-laki .<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn5">[5]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Memakai parfum, kemudian melewati majelis kaum laki-laki, sehingga membangkitkan syahwat kaum laki-laki untuk menzina-inya ;</div>
<div dir="LTR">Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda :</div>
<div dir="RTL">كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً</div>
<div dir="LTR">&#8220;Setiap mata itu berzina. Seorang perempuan yang memakai parfum lalu dia melewati majelis ( laki-laki ) maka dia demikian dan demikian yaitu wanita yang berzina &#8221; .<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn6">[6]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Sombong karena fisiknya terlihat indah dan cantik  ketika memakai pakaian yang mewah ;</div>
<div dir="LTR">Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda :</div>
<div dir="RTL">لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ</div>
<div dir="LTR">&#8220;Tidaklah masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada sifat kesombongan sebesar biji sawi &#8221; .</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Suka menggibahi saudaranya yang lain. Ini termasuk perbuatan dosa besar, sebagaimana yang Allah Ta&#8217;ala firmankan :</div>
<div dir="RTL">  ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم(12)</div>
<div dir="LTR"><em>&#8220;Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayan</em><em>g</em><em> &#8221;</em>. Al Hujurat : 12</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Talawwun ( bermuka dua ). Yaitu mendatangi satu kelompok manusia dengan menunjukkan bahwa dirinya bersama mereka dan menyelisihi lawan mereka, dengan maksud membuat kerusakan diantara mereka dan meraih kuntungan untuk dirinya sendiri. Lalu mendatangi kelompok yang lain dan menunjukan bahwa dirinya bersama mereka dengan maksud yang sama.</div>
<div dir="LTR"> Nabi shala llahu alaihi wasallam bersabda :</div>
<div dir="RTL"> إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ</div>
<div dir="LTR">&#8220;Sesungguhnya manusia yang paling jahat adalah seseorang yang memiliki dua muka , yaitu yang mendatangi mereka dengan satu muka dan mendatangi yang lain dengan muka yang lain &#8220; .<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn7">[7]</a></div>
<div dir="LTR"><span id="more-438"></span></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Bepergian (safar) tanpa mahram. Dengan safar demikian ini dia tidak aman dari fitnah.</div>
<div dir="LTR">Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda :</div>
<div dir="RTL"> لَا تُسَافِرْ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ ,  وَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ ,  فَقَالَ رَجُلٌ :  يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ , فَقَالَ :  اخْرُجْ مَعَهَا<em>.</em></div>
<div dir="LTR">&#8220;Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya. Ada seorang laki-laki berkata : Wahai rasulullah sesungguhnya saya ingin keluar bergabung dengan pasukan ini dan itu, sedangkan istri saya hendak menunaikan haji. Maka beliau katakan : &#8220; Pergilah kamu bersamanya (istri)&#8221;.</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Sering masuk ke pasar-pasar padahal tidak ada keperluan (hajat) yang mendesak, lalu dia banyak bicara dengan para penjual atau selainnya dari kaum laki-laki sehingga terjadilah fitnah.</div>
<div dir="LTR">Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :</div>
<div dir="RTL"> الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ</div>
<div dir="LTR">&#8220;Wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (dari rumahnya) syetan menampakkannya indah (di hadapan laki-laki)&#8221;. <a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn8">[8]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">-          Berbaur dengan laki-laki yang bukan mahramnya (ikhtilath) dalam suatu ruangan. Demikian ini mendatangkan fitnah dan kerusakan dalam agamanya.</div>
<div dir="LTR">Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata :</div>
<div dir="RTL"> إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ</div>
<div dir="LTR">&#8220;Hati-hatilah kalian dari memasuki kaum wanita. Seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata: Wahai rasulullah bagaimana pendapat anda tentang ipar. Maka beliau berabda : &#8221; Ipar itu membinasakan &#8221; .</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">Masih banyak kemungkaran yang lain yang dilakukan oleh kebanyakan kaum wanita yang menyebabkan mereka terjerumus ke dalam neraka. Maka kaum wanita yang menghedaki keselamatan dari adzab Allah Ta&#8217;ala, hendaklah menyerahkan diri mereka kepada syariat-Nya. Janganlah ikut melakukan kebodohan meskipun banyak wanita yang melakukannya. Jangan pula ikut melakukan kemaksiatan meskipun banyak kaum wanita berbuat maksiat. Dan jangan tertipu dengan kebanyakan kaum wanita yang melanggar syariat Allah Azza wa jalla.</div>
<div dir="LTR"> Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman :</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="RTL">    وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ</div>
<div dir="LTR"><em>&#8220;Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) &#8220;</em> . Al An&#8217;am : 116 .</div>
<div dir="RTL">!$tBur çŽsYò2r&amp; Ä¨$¨Y9$# öqs9ur |Mô¹t�ym tûüÏYÏB÷sßJÎ/</div>
<div dir="LTR"><em>&#8220;Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman &#8211; walaupun kamu sangat menginginkannya&#8221;</em><em>.</em> Yusuf : 103 .</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR"><em>Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih</em>&#8220;. Saba : 13 .</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">             Jika engkau, wahai wanita muslimah, menginginkan kemuliaan di dunia dan akhirat, yakni keberuntungan dengan meraih surga dan jauh dari adzab neraka, maka laksanakanlah perintah-perintah Allah, jauhilah larangan-larangannya dan pegangilah Al Kitab dan As Sunnah di atas pemahaman salaf (pendahulu) kita yang shalih .</div>
<div dir="LTR">Dia Ta&#8217;ala berfirman :</div>
<div dir="RTL"></div>
<div dir="LTR"><em>&#8220;Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus&#8221;.</em> Ali Imran : 101 .</div>
<div dir="RTL"></div>
<div dir="LTR"><em>&#8220;Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan&#8221;.</em> An Nur : 52 .</div>
<div dir="RTL"></div>
<div dir="LTR"><em>&#8220;Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab ( Al Qur&#8217;an ) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan&#8221;.</em> Al A&#8217;raf : 170 .</div>
<div dir="LTR">Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :</div>
<div dir="RTL"></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR"><em>&#8220;Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih&#8221;.</em>  An Nur : 63</div>
<div dir="LTR">          Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى &#8221;Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Mereka(para sahabat) berkata : Wahai rasulullah siapa yang enggan memasukinya? Beliau berkata : Siapa yang mentaatiku maka dia masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia enggan memasukinya &#8221; .<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn9">[9]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="RTL">مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي</div>
<div dir="LTR">&#8220;Perumpamaan aku dan kalian adalah seperti seseorang yang menyalakan api. Lalu belalang-belalang akan jatuh di dalamnya dan dia berupaya menolaknya dari api (agar tidak terjatuh ke dalamnya). Aku memegangi pinggang kalian dari api neraka (agar tidak terjatuh ke dalamnya), namun kalian terlepas dari pegangan tanganku &#8221; .<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn10">[10]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="RTL">وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ</div>
<div dir="LTR">“Aku tinggalkan dua perkara yang berat<a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn11">[11]</a> untuk kalian. Yang pertama dari keduanya adalah Kitab Allah yang mengandung petunjuk dan cahaya, maka ambillah kitab Allah dan pegangilah ia…&#8221; . <a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftn12">[12]</a></div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="RTL">وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ</div>
<div dir="LTR">“Sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian dua perkara yang berat, yang salah satunya adalah Kitab Allah Azza Wajalla yang merupakan tali Allah.Barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia di atas kesesatan”.</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR">          Saya memohon kepada Allah agar nasihat ini berguna bagi setiap yang membacanya , sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia .</div>
<div dir="LTR">          Shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas nabi kita Muhamad , atas keluarganya dan sahabatnya .</div>
<div dir="RTL">سبحانك اللهم وبحمدك , لا إله إلا أنت , أستغفرك و أتوب إليك .</div>
<div dir="LTR">Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subaidi bin Kaprawy</div>
<div dir="LTR">REFERENSI :</div>
<div dir="LTR">      1- Al Qur&#8217;an Al Karim</div>
<div dir="LTR">2-      Shahih Bukhari dengan syarahnya Fathul Bari</div>
<div dir="LTR">3-      Shahih Muslim dengan syarahnya An Nawawi</div>
<div dir="LTR">4-      Sunan Tirmidzi dengan syarahnya Tuhfatul Ahfadzi</div>
<div dir="LTR">5-      Sunan Abu Dawud dengan syarahnya Aunul Ma&#8217;bud</div>
<div dir="LTR">6-      Sunan Nasai</div>
<div dir="LTR">7-      Musnad Al Imam Ahmad</div>
<div dir="LTR">8-      Shahih Ibnu Hibban</div>
<div dir="LTR">9-      Shahih Ibnu Huzaimah</div>
<div dir="LTR">10-  Nasihati Linnisa karya Umu Abdillah Al Wadi&#8217;iyyah</div>
<div dir="LTR">11-  Sab&#8217;un Mukhalafatan Taqa&#8217;u fihan Nisa.</div>
<div>
<hr align="right" size="1" width="33%" />
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref1">[1]</a> Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam &#8221; Shahih Keduanya &#8220;  dari sahabat Utsamah bin Zaid .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref2">[2]</a> Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam &#8221; Shahih Keduanya &#8221; dari sahabat Ibnu Abbas .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref3">[3]</a> Dikeluarkan oleh Muslim di dalam &#8221; Shahihnya &#8221; .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref4">[4]</a> Dikeluarkan oleh Bukhari di dalam &#8221; Shahihnya &#8221; dari sahabat Abu Sa&#8217;id Al Khudri radhiyallahu anhu , dan Muslim di dalam &#8221; Shahihnya &#8221; dari sahabat Abdullah bin Umar .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref5">[5]</a> Dikeluarkan oleh Bukhari di dalam &#8221; Shahihnya &#8221; dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref6">[6]</a> Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad , Tirmidzi , Nasai dan Abu Dawud dari sahabat Abu Musa Al Asy&#8217;ari , dan Tirmidzi mengatakan hadis hasan shahih dan disahihkan juga oleh Al Imam Ibnu Hibban dan Hakim .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref7">[7]</a> Dkeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dalam &#8221; Shahih Keduanya &#8221; dari sahabat Abu Hurhairah rhadhiyallahu anhu.</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref8">[8]</a> Diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam &#8221; Sunannya &#8221; , dan dia mengatakan hadis hasan yang asing . Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah , dan di dalam lafadz keduanya terdapat tambahan pada akhirnya ; &#8221; Dan dirinya sangat dekat dengan Wajah Tuhannya ketika di dalam rumahnya &#8221; .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref9">[9]</a> Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam &#8221; Shahih Keduanya &#8221; dari sahabat Abu Hurhairah rhadhiyallahu anhu dengan lafadz yang sedikit berbeda .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref10">[10]</a> Dikeluarkan oleh Muslim di dalam &#8221; Shahihnya &#8221; , dan Al Imam Ahmad di dalam &#8221; Musnadnya &#8221; dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma .</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref11">[11]</a> Kedua perkara ini dinamakan sesuatu yang berat karena agung dan besarnya perkara keduanya atau karena beratnya pengamalan keduanya, Syarah Shahih Muslim An Nawawi.</div>
</div>
<div>
<div dir="LTR"><a title="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6861268826323768103#_ftnref12">[12]</a> Dikeluarkan oleh Muslim di dalam &#8221; Shahihnya &#8221; dari sahabat Zaid bin Arqam rodhiyallahu anhu .</div>
</div>
<div dir="LTR"></div>
<div dir="LTR"><a href="http://najiyyahabu.blogspot.com/2012/01/permata-umat.html#more">http://najiyyahabu.blogspot.com/2012/01/permata-umat.html#more</a></div>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2012/01/daisy-candles_l.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-439" title="daisy candles_L" src="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2012/01/daisy-candles_l.jpg?w=150&#038;h=147" alt="" width="150" height="147" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/438/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=438&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2012/01/21/wahai-saudariku-muslimah-selamatkan-dirimu-dari-siksaan-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2012/01/daisy-candles_l.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">daisy candles_L</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‎KISAH PENCULIKAN SEORANG GADIS SMP DI RIYADH</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2012/01/10/%e2%80%8ekisah-penculikan-seorang-gadis-smp-di-riyadh/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2012/01/10/%e2%80%8ekisah-penculikan-seorang-gadis-smp-di-riyadh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 03:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kewanitaan]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>
		<category><![CDATA[penculikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Ummu &#8216;Abdillah Bintu Daniel Kisah ini disampaikan oleh seorang guru Qur`an Doktorah Raawiyah&#8230; Sebelum mengakhiri pelajaran seperti biasa beliau selalu menyelipkan beberapa nasihat,tapi kali ini nasihatnya adalah kisah nyata yang terjadi di Riyadh. &#8220;Yaa Akhwaat apa telah sampai berita kepada kalian tentang penculikan seorang gadis mutawasithah (SMP) sepekan lalu?&#8221; Dan tidak ada satu pun dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=433&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.facebook.com/ummuabdillah.bintudaniel">Ummu &#8216;Abdillah Bintu Daniel</a></p>
<p>Kisah ini disampaikan oleh seorang guru Qur`an Doktorah Raawiyah&#8230;<br />
Sebelum mengakhiri pelajaran seperti biasa beliau selalu menyelipkan beberapa nasihat,tapi kali ini nasihatnya adalah kisah nyata yang terjadi di Riyadh.<br />
&#8220;Yaa Akhwaat apa telah sampai berita kepada kalian tentang penculikan seorang gadis mutawasithah (SMP) sepekan lalu?&#8221;<br />
Dan tidak ada satu pun dari kami mengetahui berita tersebut&#8230;<br />
&#8220;Baiklah yaa Akhwaat, akan ku ceritakan kepada kalian bagaimana itu terjadi&#8230;<br />
Siang ba&#8217;da Dzuhur si gadis pulang sekolah, karena jarak sekolah dan rumahnya dekat seperti biasa dia memilih jalan kaki. Ternyata kebiasaannya pulang sekolah dengan berjalan kaki ini sudah lama diketahui oleh seorang pemuda. Maka terbersitlah dalam pikirannya untuk menculik gadis tersebut&#8230;dan&#8230; berhasil!!!<br />
Tak seorang pun yang melihatnya ketika menyekap si gadis dan memasukkannya ke <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=0">&#8220;syanthoh sayyarah&#8221;</a>(bagasi mobil) kemudian menguncinya&#8230;</p>
<p><span id="more-433"></span><br />
Sang pemuda membawa gadis malang itu ke daerah Tsumamah.<br />
Kalian sendiri tau Tsumamah di waktu siang seperti itu?! Ada siapa disana?! Bisa dipastikan hanya orang kesasar ataw tidak punya pekerjaan yang ada disana di waktu siang. Hanya Allah yang tau apa yang hendak diperbuat pemuda tersebut terhadap si gadis.Turunlah si pemuda dengan dengan kunci di tangannya,ingin cepat2 melihat &#8220;hasil tangkapannya&#8221;. Dengan gembira dimasukkannya kunci dan diputarnya, tapiii&#8230; ada apa??? bagasi tidak bisa terbuka??? Dicobanya terus dan teruuus&#8230;.. Tapi&#8230;percuma, adzan ashar sudah berkumandang&#8230;<br />
Sang pemuda sudah mulai dihinggapi rasa takut dan &#8220;heran&#8221; yang sangat&#8230;<br />
Bisa-bisa si gadis mati karena tidak menghirup udara,maka dicobanya lagi dan lagi&#8230;<br />
Sang pemuda sudah putus harapan, bagasi tetap terkunci rapat. Sementara malam sudah membayangi&#8230;<br />
Dengan perasaan takut dan pasrah sang pemuda memacuh mobilnya ke bengkel terdekat, berharap disana ada jalan untuk membuka bagasi mobilnya dan menyelamatkan nyawa si gadis..<br />
.Di bengkel hal yang sama terjadi. Semua cara sudah dilakukan oleh pekerjanya&#8230;<br />
Terakhir sang pemuda memanggil polisi dan melaporkan hal tersebut. Sekarang yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana supaya gadis itu bisa diselamatkan&#8230;<br />
Oleh polisi diputuskan supaya bagasi dilubangi dengan di las, tapi ajaib&#8230;., las pun tidak mampu melubangi bagasi&#8230;<br />
Maka semua sepakat memanggil seorang Mutawwa&#8217;(Syaikh). Oleh Syaikh bagasi dibacakan ayat-ayat ruqyah kemudian dibuka dengan kunci&#8230;<br />
Ajaib&#8230;, sekali putar bagasi langsung terbuka&#8230;<br />
Dan didapati si gadis dalam keadaan selamat dan tidak terjadi apapun atas dirinya&#8230;<br />
Subhanallah&#8230; Tercenganglah semua orang dibuatnya&#8230;<br />
Maka Syaikh bertanya kepadanya : &#8216;Wahai bint&#8230; ceritakanlah kepada kami apa yang telah engkau lakukan sampai Allah menjagamu dengan penjagaan seperti ini?&#8217; Jawabnya singkat :<a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=0">&#8216;Sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkan Dzikir Pagi dan Petang&#8217;.</a>&#8220;</p>
<p>Subhanallah&#8230; Kami takjub dengan kisah ini. Nasehat Doktorah Raawiyah: <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=0">&#8220;Lihatlah yaa Akhwaat&#8230; bagaimana dzikrullah menjadi sebab pertolongan Allah yang AJAIB bagi hamba-hambaNya&#8230; Maka jangan pernah tinggalkan Dzikir pagi dan petang sesibuk apapun kalian&#8230;&#8221;</a>.</p>
<p>Semoga kisah ini bisa menjadi cambuk bagi kita untuk senantiasa berusaha mengamalkan dzikir pagi dan petang dan tidak lagi menyia nyiakannya..<br />
Dan hanya kepada Allah lah kita memohon Taufiq dan Hidayah.</p>
<p><a href="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2012/01/403193_251698748229237_100001673406902_635858_1884743362_n1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-435" title="403193_251698748229237_100001673406902_635858_1884743362_n" src="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2012/01/403193_251698748229237_100001673406902_635858_1884743362_n1.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=433&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2012/01/10/%e2%80%8ekisah-penculikan-seorang-gadis-smp-di-riyadh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2012/01/403193_251698748229237_100001673406902_635858_1884743362_n1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">403193_251698748229237_100001673406902_635858_1884743362_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tercelakah Wahhabi?</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/10/15/tercelakah-wahhabi/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/10/15/tercelakah-wahhabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 07:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Niko Putra Pratama Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran &#38; Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi &#38; Wali .… Akupun dituduh Wahabi Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Akupun diklaim sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=427&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :</p>
<h6><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000472527251">Niko Putra Pratama</a></h6>
<p>Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai AlQuran &amp; Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi</p>
<p>Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi &amp; Wali .… Akupun dituduh Wahabi</p>
<p>Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq …. Akupun diklaim sebagai Wahabi</p>
<p>Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang zhalim, Akupun dipasangi platform Wahabi</p>
<p>Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Akupun dijuluki Wahabi</p>
<p>Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Akupun diembel-embeli Wahabi</p>
<p>Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i Akupun dihujat sebagai Wahabi</p>
<p>Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ajarkan … Akupun dikirimi “berkat” Wahabi</p>
<p>Ketika aku takut mengatakan bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala itu dimana-mana sampai dituduh babipun ada… Akupun dibubuhi stempel Wahab</p>
<p>Ketika aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan jenggot, memotong celana diatas dua mata kaki, …,…., Akupun dilontari kecaman Wahabi</p>
<p>Ketika aku tanya apa itu Wahabi…? Merekapun gelengkan kepala tanda tak ngerti</p>
<p>Ketika ku tanya siapa itu wahabi…? merekapun tidak tahu dengan apa harus menimpali</p>
<p>Tapi…! Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah… Maka aku rela mendapat gelar Wahabi !</p>
<p>Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala … Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi !</p>
<p>Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi !</p>
<p>Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam … Maka akulah pahlawan Wahabi !</p>
<p>Ada yang bilang.…. Kalau pengikut setia Ahmad shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.</p>
<p>Ada yang bilang….. Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu sedang memujimu, Pujian dalam hujatan….!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=427&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/10/15/tercelakah-wahhabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yes, I Left My Music For The Sake of Allah!</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/03/14/yes-i-left-my-music-for-the-sake-of-allah/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/03/14/yes-i-left-my-music-for-the-sake-of-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 03:50:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah catatan dari seorang teman, ini kisah nyata dan yang bersangkutan tidak mau disebutkan identitasnya, semoga kita dapat mendapatkan ibroh darinya, aamiin&#8230; بســــم الله الرحمن الرحيـــــم Untuk seorang Aku, yang seorang Sarjana Pendidikan Musik, sepertinya SANGAT TIDAK MUNGKIN untuk say goodbye to music. Saya lahir dari orang tua pecinta musik. Koleksi kaset mereka, bayangkan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=421&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah catatan dari seorang teman, ini kisah nyata dan yang bersangkutan tidak mau disebutkan identitasnya, semoga kita dapat mendapatkan ibroh darinya, aamiin&#8230;</p>
<p><strong>بســــم الله الرحمن الرحيـــــم</strong><strong> </strong></p>
<p>Untuk seorang Aku, yang seorang Sarjana Pendidikan Musik, sepertinya  SANGAT TIDAK MUNGKIN untuk<em> say goodbye to music</em>. Saya lahir  dari orang tua pecinta musik. Koleksi kaset mereka, bayangkan, ribuan!  Kami tumbuh besar dengan alunan musik setiap harinya.  Jadilah yang  namanya musik mendarah daging dalam diri saya. <em>I loved music very   much</em>. Tiada hari tanpa musik, tiada hari tanpa bernyanyi.  Berpetualang sebagai penyanyi&#8230; hinggap dari <em>choir</em> satu ke <em>choir</em> yang lain, menyanyi di <em>wedding2, event2, cafe</em> pun pernah.  Bikin grup vokal, band, trio, jadi instruktur vokal, pelatih paduan  suara, instruktur piano, jadi juri lomba menyanyi, rekaman-rekaman&#8230; <em>Oh  boy, i was so busy!</em></p>
<p><em><span id="more-421"></span><br />
</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Qadarullah, (sejujurnya) saya  tidak pernah merasa nyaman 100% dengan pekerjaan ini. Pekerjaan ini  menuntut wajah yang selalu tersenyum, tidak mau tau kondisi badan kita  sehat atau tidak, harus selalu menjaga penampilan fisik agar selalu  terlihat menarik dan yang paling mengganggu; sebenarnya saya tidak tahan  menghadapi tatapan orang yang menyaksikan saya di atas panggung. Malu.  Rasanya tatapan mereka seperti pedang yang menusuk-nusuk hati.  Bertahun-tahun jadi penyanyi tapi rasa malu itu tidak hilang juga.  Heran! Akhirnya setelah berjilbab tahun 2001 (walau belum syar&#8217;i), saya  berkonsentrasi sebagai seniman balik layar saja, juga jadi instruktur  vokal, pelatih paduan suara dan sesekali menyanyi di <em>choir</em> (paduan suara). Pada awalnya oke-oke saja. Tapi begitu menikah lalu  hamil (2004), saya memutuskan <em>resign </em>dari pekerjaan mengajar  vokal. Tidak tahan sama mualnya hamil muda. Daripada terpaksa bersikap  profesional tapi tersiksa, lebih baik berhenti (belakangan saya baru  sadar, bahwa saat itu saya &#8216;terpenjara&#8217;!).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Begitu anak  pertama lahir, saya baru merasakan yang namanya nikmat mengurus bayi.  Walaupun dunia jadi jungkir balik karena kurang tidur, walaupun jadi  tahanan rumah alias gak bisa ke mana-mana sama sekali, tapi ada  kenikmatan di balik itu. Kenikmatan yang tidak akan saya tukar dengan  apapun. Padahal kehidupan beragama saya saat itu masih dalam lingkup  sekulerisme. Agama, agama&#8230; dunia, dunia. Tapi ternyata Allah masih  sayang sama saya dengan menganugerahkan naluri keibuan yang begitu  besar. Alhamdulillah&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Waktu demi waktu berlalu. Saya  sudah menjadi ibu rumah tangga penuh (belakangan saya baru sadar, Allah  membimbing saya ke jalan ini). Tetapi musik jalan terus, malah makin  &#8220;menggila&#8221;. Mulai dari jenis musik <em>oldies, pop, love song, jazz,  country, broadway musical, Disney</em>&#8230; apa yang saya gak punya? Event  Java Jazz pun saya jabani! Mengharap Michael Buble datang ke Indonesia  suatu saat nanti. Mmmm&#8230;. mengidolakan orang kafir, astaghfirullah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tapi  sampai pada suatu titik di mana saya merasakan kekosongan dalam hati.  Di mana saya merasakan sholat lima waktu yang saya jalani tidak lebih  dari sekedar menjalankan kewajiban tanpa esensi. Ditambah ada sesuatu  yang menghantui pikiran saya, membuat saya jadi &#8220;parno&#8221;. Saat itulah  saya merasa butuh pegangan. Butuh tempat bersandar&#8230; Saya tidak  menemukan ketenangan dalam sekulerisme yang saya jalani. Begitu juga  dengan &#8220;aliran&#8221; lain yang coba saya pahami (tapi gak paham2!). Begitu  juga dengan musik. Kenikmatan yang diberikannya hanya sebatas telinga,  tidak sampai ke hati&#8230; <strong><em>Even music cannot heal my soul!</em></strong> Pada saat itu saya merasakan musik tidak lebih dari pengkhianat yang  tidak bisa berbuat apa-apa di saat saya membutuhkan pertolongan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alhamdulillah,  di saat yang seperti itu, saya mengenal <a title="http://www.salafy.or.id/modules/konten/?id=2" rel="nofollow" href="http://www.salafy.or.id/modules/konten/?id=2" target="_blank">MANHAJ YANG HAQ</a> ini (jazaahumullaahu  khayran untuk orang-orang yang telah memberi tausiyah kepada saya). <strong>JEGERR!!!</strong> Saya seperti ditampar, seperti disadarkan&#8230; Dan tiba-tiba saya merasa  silau. Seperti baru saja keluar dari lorong yang gelap menuju tempat  yang sangat terang. Begini lho cara beragama yang benar.<strong> Cara  beragama yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallhu &#8216;Alaihi wa  Sallam.</strong> Subhanallah.. ternyata banyak sekali kesalahan yang  sudah saya perbuat, banyak sekali hal-hal yang saya belum tahu, dan  banyak sekali yang harus saya pelajari! Mengapa saya bisa bertahun-tahun  merasa &#8220;cukup&#8221; dengan agama saya? Sementara banyak kemaksiatan yang  tidak sadar saya lakukan, karena sedemikian jahilnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mulai  saat itu, saya berusaha meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat  dalam hidup saya. Apalagi setelah mengetahui bahwasanya Rasulullah  bersabda,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala  membenci setiap orang yang pandai akan urusan dunia tapi bodoh akan  urusan akhirat.”</strong> <em>(Kanzul ‘Ummal hadits no. 28982). </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Betapa  malunya saya! Saya bisa membaca not musik, tapi tidak bisa membaca Al  Qur&#8217;an. Saya hafal ribuan lagu tapi hafalan surat saya bisa dihitung  dengan jari. Saya mengerti teori musik dan seluk-beluknya, tapi buta  sama sekali tentang fiqih, even yang paling sederhanapun. Saya bisa  menyanyi dengan merdu (kata orang), tapi membaca Al Fatihah saja tidak  lebih bagus dari anak TK. Saya tau sejarah musik, tapi asing dengan  sejarah Rasulullah dan para sahabatnya. Astaghfirullah&#8230; T_T Siapa pula  yang mau merugi di akhirat? Apakah pengetahuan saya yang luas dalam  musik dapat menolong saya di hari kiamat nanti? Tidak mungkin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari-hari  pun saya sibukkan dengan belajar dan belajar ilmu syar&#8217;i. Belajar  membaca &amp; metadabburi Al Qur&#8217;an, membaca buku, mendengar  kajian-kajian, browsing artikel-artikel yang berkaitan dengan agama,  juga berusaha mengamalkan setiap ilmu yang saya pelajari&#8230; Dan  otomatis, tidak ada waktu untuk musik. Haluan hidup saya berubah menjadi  <em>&#8220;Akhirat Oriented&#8221;</em>. Saya berusaha (sampai sekarang pun masih  berusaha) untuk menjadi hamba yang patuh kepada Rabbnya. Berusaha untuk  selalu mengingat hakikat tujuan penciptaan manusia itu sendiri.  Sebagaimana firman Allah dalam surat <strong>Adz-Dzaariyaat : 56  &#8220;Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah  kepada-Ku.&#8221; </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya juga menemukan bahwa <strong>MUSIK  dan AL QUR&#8217;AN tidak bisa seiring sejalan</strong>. Salah satu pasti  akan mendominasi. Kecintaan pada yang satu pasti akan mengalahkan  kecintaan pada yang lain. Benar juga&#8230; Apakah waktu menikmati lagu-lagu  <em>jazz</em> saya ingat Allah? Tidak. Apakah saat asyik menyanyikan  lagu-lagu <em>Disney</em> dan <em>Broadway Musical</em> saya ingat  Allah? Tidak. Apa saat sedang tenggelam dalam pesona film musikal saya  ingat Allah? Juga tidak. Sementara kita <strong>wajib untuk mengingat  Allah setiap saat.</strong> Dengan kata lain, saya merasakan bahwa <strong>musik  telah melalaikan saya dari mengingat Allah</strong>. Dan akhirnya saya  pun menemukan bahwa<strong> kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya, ternyata  lebih indah dari apapun juga.</strong> Subhaanallaah&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah  mengetahui dalil-dalil serta hujjah yang jelas dan terang tentang <strong>haramnya  musik</strong>, tidak ada lagi di hati ini kecuali TUNDUK dan PATUH.  Banyak yang menyayangkan dan memandang sinis pilihan saya ini. Memang,  dilihat dari kacamata dunia, sepertinya saya menyia-nyiakan &#8220;bakat&#8221;,  selain terkesan &#8220;menyia-nyiakan&#8221; kursus-kursus dan kuliah musik/vokal  yang sudah saya ambil.  Tapi sekali lagi, saya tidak mau jadi manusia  yang dibenci Allah karena hanya pandai urusan dunia. Banyak juga yang  menanyakan, &#8220;Kenapa gak pindah ke nasyid aja, Wan? Kan sayang suaramu  bagus&#8230; Lagipula nasyid kan juga mengingatkan kita sama Allah?&#8221; Nasyid  itu hakikatnya sama saja, musik-musik juga (nasyid masa kini ya, yang  SUDAH diiringi dengan alat-alat musik). Rasulullah dan para sahabatnya,  serta 3 generasi pertama terbaik umat ini, tidak pernah berdakwah dengan  musik. Jika itu baik, pasti mereka akan melakukannya&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah  menjalaninya, ternyata hidup saya menjadi lebih damai dan tenteram.  Hidup tanpa musik ternyata oke-oke saja&#8230; Hati jadi lebih lembut dengan  Al Qur&#8217;an, jiwa tidak lagi hampa, dan hilang sudah ketakutan-ketakutan  saya. Saya merasa seperti sedang berjalan menuju kebebasan. Bebas dari  penghambaan kepada dunia dan kepada makhluk, menuju penghambaan kepada  Sang Pencipta. Penghambaan tapi &#8216;terbebaskan&#8217;&#8230; Aneh ya? Tapi begitulah  yang saya rasakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perjalanan saya baru dimulai. Lautan  ilmu baru akan saya arungi. Semoga Allah menganugerahkan keistiqomahan  pada saya, sehingga saya mampu menghadapi ujian-ujian dari-Nya. Dan pada  akhir nanti semoga saya dapat bertemu Allah dengan hati yang selamat,  mendapatkan rahmat serta ampunan-Nya. Insyaa&#8217; Allaah, aamin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan  jika mereka bertanya, &#8220;Kamu sudah tidak bermusik lagi?&#8221; Maka jawabku, <strong>&#8220;Yes,  I left my music for the sake of Allah!&#8221;</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>(Semoga  Allah  memberi suamiku pekerjaan pengganti yang lebih baik. Aamiin&#8230;)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/421/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=421&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/03/14/yes-i-left-my-music-for-the-sake-of-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inilah Alasan Mengapa Aku Enggan Berjilbab</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/03/13/inilah-alasan-mengapa-aku-enggan-berjilbab/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/03/13/inilah-alasan-mengapa-aku-enggan-berjilbab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 11:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kewanitaan]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=414</guid>
		<description><![CDATA[Ar Rumaisha&#8217; Amal Saudaraku yang semoga Allah merahmatimu.. &#160; Aku tuliskan catatan ini wahai saudaraku, bukan karena aku lebih baik darimu.. Atau bukan karena aku paling baik diantara kalian.. &#160; Sungguh, semata-mata ku lakukan karena aku peduli padamu. Karena kau saudaraku dan aku mencintai kebaikan bagimu sama seperti aku mencintai kebaikan untuk diriku sendiri. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=414&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2011/03/niqab3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-417" title="niqab3" src="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2011/03/niqab3.jpg?w=570" alt=""   /></a><a href="http://www.facebook.com/icha.rumaisha">Ar Rumaisha&#8217;  Amal</a></p>
<div>
<div>
<p>Saudaraku yang semoga  Allah merahmatimu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tuliskan catatan ini wahai  saudaraku, bukan karena aku lebih baik darimu..</p>
<p>Atau bukan karena  aku paling baik diantara kalian..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh, semata-mata ku  lakukan karena aku peduli padamu. Karena kau saudaraku dan aku mencintai  kebaikan bagimu sama seperti aku mencintai kebaikan untuk diriku  sendiri. Dan barangkali kau pernah mendengar, bahwa agama ini adalah  nasihat. Maka aku menasihati diriku sendiri yang utama kemudian kau,  saudaraku di jalan Allah.</p>
<p><span id="more-414"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagiku <strong>hijab</strong> adalah suatu kebaikan yang teramat berharga. Ia merupakan <strong>kebanggaanku</strong>,  <strong>kehormatanku</strong>, <strong>kemuliaanku</strong>, juga <strong>ciri  khas</strong> serta<strong> identitasku</strong> sebagai seorang <strong>Muslimah</strong>.  Maka dengan mengharap keridhaan dari Rabb-ku Yang Maha Mulia lagi Maha  Tinggi, aku menghendaki agar kebaikan yang kurasakan bersama <strong>hijab</strong> ini dapat pula kau rasakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku sampaikan begini sebab  aku tidak ingin kemudian kau berkata di belakangku, <em>“Mengapa orang  ini mencampuri urusanku?! Ini hidupku dan aku yang menjalaninya.  Berjilbab atau tidak biarlah urusanku dengan Tuhanku saja!”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Tidak,  aku tidak menginginkan kalimat tersebut terucap dari lisanmu. Aku  katakan kembali bahwa aku tidak memiliki keinginan untuk mencampuri  urusanmu. Aku hanya menginginkan bagimu kebaikan sebagaimana aku  menginginkan kebaikan untuk diriku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga Allah memberiku  hidayah demikian pula bagimu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dibawah ini kutulis  beberapa alasan para wanita Muslimah, mengapa mereka enggan menutupi  auratnya, padahal telah datang pada mereka kabar dari Tuhan-nya bahwa  mengenakan jilbab adalah wajib.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah subhanahu wa ta&#8217;ala  berfirman yang artinya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>“Hai nabi, katakanlah  kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-isteri orang  mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh  mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,  Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang.” </strong></em><strong>[Al-Ahzab: 59]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perhatikanlah  saudaraku, barangkali satu diantaranya adalah pernyataan yang menjadi  alasanmu juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pertama</strong>,</p>
<blockquote><p><strong>“..  ah, yang terpenting bagiku adalah hati, bukan penampilan! Apakah  berjilbab ataukah tidak”</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Betulkah  begitu saudaraku? Betulkah bahwa penampilan atau hal yang tampak  merupakan sesuatu yang kurang begitu penting bagimu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Baiklah,  bantulah dirimu untuk mengingat apa yang telah kau lakukan sejak pagi  tadi. Bukankah pagi tadi kau membersihkan tubuhmu, memakai pakaian  bagus, lalu memoles wajahmu dengan <em>blush on</em> dan <em>lipstick</em> berwarna <em>peach</em>, kemudian memberikan sedikit <em>hair mask</em> pada rambutmu, dan tak lupa menyemprotkan parfum lalu keluar menuju  kampus atau tempat kerjamu. Kau akan pergi setelah menilai penampilanmu <em>oke</em>.  Bukankah hal tersebut menandakan bahwa sebenarnya penampilan teramat  penting bagimu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Well, aku anggap kau telah sependapat  denganku, bahwa baiknya hati sangat penting. Namun penampilan zahir  (tampak) pun sangatlah penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selanjutnya aku kutipkan  padamu sebuah hadits yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi  wasallam,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>“ Ingatlah bahwa sesungguhnya dalam  jasad itu ada segumpal daging apabila baik gumpalan tersebut maka  baiklah jasad tersebut dan sebalikya apabila rusak maka rusaklah jasad  tersebut ingatlah bahwa itu adalah hati”</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Perhatikanlah  wahai saudaraku..</p>
<p>Bahwa ternyata baiknya hati dan baiknya jasad  (penampilan) berbanding lurus, tidak mungkin kau mengambil salah satu  dan mengenyampingkan yang lainnya. Jadi jika hatimu baik, maka akan baik  pula jasad atau penampilanmu. Dan menutup auratmu dengan mengharap  ridha Allah merupakan sebuah amalan zahir (tampak) yang sangat agung dan  merupakan salah satu upaya untuk memperbagus penampilanmu. Tentunya  merupakan sebuah kewajiban dari Rabb-mu Yang Maha Kuasa tanpa bisa kau  negosiasikan kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong>,  tidak mungkin kau melakukan amalan batin sedang tidak diiringi dengan  amalan zahir. Dan sesungguhnya seorang yang jujur dalam keimanannya  untuk memperbaiki hatinya, pastilah tidak akan melewatkan untuk  melakukan ketaatan kepada Allah yakni berhijab dan memperbaiki jasadnya  (amalan zahir).</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Kedua </strong></p>
<blockquote><p><strong>“Aku  lihat banyak sekali orang yang berjilbab namun akhlak mereka buruk. Dan  ditempat lain banyak kawan-kawanku yang tidak memakai jilbab namun  mereka baik..”</strong></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Jadi itulah  yang membuatmu enggan berjilbab wahai saudaraku? Dan kau memilih menjadi  seperti kawan-kawanmu yang tidak mengenakan jilbab namun mereka telah  baik menurutmu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku katakan padamu bahwa aku mengenal  seseorang yang baik padaku namun dia adalah seorang pecandu alkohol.  Apakah itu menunjukkan bahwa aku mesti menjadi seorang <em>alcoholic</em>?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu  akupun memiliki teman-teman dari kalangan Nasrani, Hindu dan Budha,  beberapa dari mereka gemar memberi, suka menolong, dan sikap mereka  sangat baik kepada manusia meski tidak seagama dengan mereka. Apakah hal  tersebut kemudian membuatku mengatakan <em>“Aku memilih menjadi seperti  mereka. Menjadi seorang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha sebab  mereka sangat baik”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ketiga</strong></p>
<blockquote><p><strong>“Jujur,  aku khawatir kelak susah mendapatkan jodoh dengan jilbab yang ku  kenakan”</strong></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>O dear..  cobalah  bertanya begini pada dirimu sendiri,</p>
<p><em>“Laki-laki seperti apa  yang ku inginkan untuk dinikahi”</em></p>
<p><em>“Ayah yang bagaimana  yang aku inginkan untuk anak-anakku kelak?”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pikirkanlah  untuk menjawab pertanyaan tersebut..</p>
<p>Saudaraku, apakah kau ingin  menikah dengan laki-laki yang hanya ingin mencari pasangan dengan gaya  rambut menarik dan betis yang mulus?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dimana laki-laki  tersebut tidak akan berpikir sedikitpun untuk menikahi wanita yang  membungkus tubuhnya dengan jilbab sebab yang menarik hatinya adalah para  wanita yang gemar berganti gaya rambut dan mempertontonkan setengah  dadanya. Benarkah laki-laki seperti demikian yang kau inginkan untuk  menikah denganmu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam  tanzil-Nya,</p>
<p><strong><em>“&#8230;wanita-wanita yang keji adalah untuk  laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita  yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang  baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula…” </em>[An-Nuur: 26]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Subhanallah..</p>
<p>Kau punya  waktu untuk merenungkannya kembali dengan pikiranmu yang jernih  saudaraku..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidakkah kau inginkan seorang laki-laki  shalih?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau  menginginkan suamimu kelak yang dapat menjadi seorang Imam bagimu dan  anak-anakmu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seorang laki-laki yang dapat membimbingmu dan  mengarahkanmu kepada kebaikan..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seorang laki-laki yang  menjaga kehormatanmu dan kehormatan keluargamu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seorang  laki-laki yang memuliakanmu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seorang laki-laki yang  memiliki tekad kuat untuk mengamalkan ayat Allah yang mengatakan:</p>
<p><strong><em>“Jagalah  dirimu dan keluargamu dari api neraka..” </em>[Lihat At-tahrim ayat 6]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukankah  kau menginginkan seorang laki-laki yang menjadi teladan baik bagi  anak-anakmu kelak?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bukankah kau pernah bercita-cita  memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah warrahmah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jawablah  pertanyaanku..</p>
<p>Bagaimana bisa kau mendapatkan apa yang kau ingini  dan kau cita-citakan dari seorang laki-laki yang hanya menginginkan  keindahan tubuh wanita untuk dipamerkan, yang bahkan tidak memiliki  cukup iman untuk menyukai jilbab bagi istrinya??</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Keempat</strong></p>
<blockquote><p><strong> “Aku pun khawatir akan sulit mendapatkan pekerjaan  dan sulit untuk  berkarir.&#8221;</strong></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Saudaraku, tidak  pernahkah kau memperhatikan seekor burung?</p>
<p>Dia terbang pada pagi  harinya meninggalkan sangkarnya, kemudian tidak lama kembali pada  keluarganya dan membawakan mereka makanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu siapakah  Dzat yang memberi burung-burung tersebut rizki dari langit?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku  yakin kau akan menjawab “Allah-lah Meha Pemberi Rizki”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah  kau berpikir bahwa Allah memberi rizki pada burung-burung tersebut dan  tidak memberi rizki kepadamu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah kau berpikir bahwa  Allah Ta’ala zalim?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah kau akan berpikir bahwa Allah  memerintahkan sesuatu untukmu kemudian Dia menyulitkanmu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahwa  Dia memerintahkanmu untuk berjilbab lalu membiarkanmu hidup di dunia  tanpa memperoleh rizki?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Apa yang kau khawatirkan wahai  saudaraku?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perhatikanlah kalam Allah berikut,</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>“Tidak  ada satu makhluk melatapun di muka bumi kecuali Allah yang menanggung  rezekinya, dan Dia yang mengetahui tempat berdiamnya dan tempat  penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” </em> [Huud : 6]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku, aku berdoa kepada  Allah agar melembutkan hati-hati kita..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barangkali saat  ini <strong>angan-anganmu</strong> terhadap dunia begitu tinggi..</p>
<p>Kau  <strong>bercita-cita</strong> begini..  berambisi itu.. ingin menjadi  begini dan begitu..</p>
<p>Kau ingin agar sukses di dunia kemudian  melakukan sebab dan upaya agar tercapai keinginanmu tersebut. Namun  sudahkah kau berpikir dan bercita-cita untuk kehidupanmu di <strong>akhirat</strong> nanti?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka akan kau jawab, <em>“Tentu saja sista!  Siapa-lah yang tidak ingin mencapai kesuksesan di akhirat?!”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu  sejauh mana upayamu dalam menggapai kesuksesan dan kebahagiaan tersebut  wahai saudaraku?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau diam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahkan kau ingin  mendapatkan surga dalam keadaan enggan untuk taat kepada Rabb-mu?  Enggan untuk berjilbab?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau berpikir untuk mengejar dunia,  padahal sesungguhnya dunia akan berpaling darimu, membelakangimu serta  mengkhianatimu. Sebab dunia pastilah akan musnah. Sedang akhirat, itulah  negeri yang kekal dan abadi. Maka bagaimana kau mengejar sesuatu yang  akan musnah dan membelakangi sesuatu yang kekal?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alangkah  indah nasihat dari Hasan Al-Bashri yang mengatakan.</p>
<p><em>“Permisalan  antara dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat. Semakin engkau  dekat pada satu sisi, semakin jauh engkau pada sisi yang lainnya.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Saudaraku  yang semoga Allah memberkahimu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh, bukanlah aku  menasihatimu untuk melupakan dan membelakangi dunia. Sebaliknya aku  menasihati diriku sendiri kemudian kau agar bersemangat dalam memperoleh  apa-apa yang bermanfaat bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>“Bersemangatlah  memperoleh sesuatu yang bermanfaat begimu dan mintalah pertolongan  kepada Allah. Serta jangan merasa lemah.”</em> (HR. Muslim)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan  agar bersemangat dalam menatap <strong>masa depan</strong>.</p>
<p>Disebabkan  masa depan dunia memiliki ujung dan tidak kekal, maka akan sangat adil  bagi kita untuk memilih memprioritaskan masa depan yang lebih cemerlang,  menjanjikan, serta <strong>abadi</strong>. Tiada lain <strong>akhirat</strong>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah  Al-Ghaniy, Yang Maha Kaya berfirman dalam kalam-Nya yang mulia,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>&#8220;Barangsiapa  yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke  luar. D</em><em>an barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya  Allah akan mencukupkan (keperluan)nya&#8221;. Dan barangsiapa yang bertakwa  kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam  urusannya&#8221;. </em>[Ath-Thalaq: 2-4]</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tersenyumlah  saudaraku sebab Allah Ta’ala telah berjanji padamu dalam keadaan kau  mengetahui bahwa janji Allah adalah benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tersenyum lalu  hiburlah lagi dirimu dengan hadits yang mulia berikut,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>&#8220;Barang  siapa yang Akhirat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup  di dalam hatinya serta mempersatukannya, dan dunia akan datang  kepadanya dalam keadaan putuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi  harapannya. Allah akan menjadikan kefakiran  berada dii depan matanya  serta mencerai-beraikannya, dan dunia tidak akan datang  kepadanya  kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan baginya.&#8221; </strong></em><strong>[HR.  Tirmidzi]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku, aku berharap kau tidak lagi  khawatir akan rizki dan duniamu. Dan semoga hal ini tidak lagi menjadi  alasanmu mengapa enggan berjilbab. Allah saja-lah Yang Memberi taufiq.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelima</strong></p>
<blockquote><p><strong> “Pelan-pelan, aku ingin menjilbabi hatiku terlebih dahulu..”</strong></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Aku  tersenyum. Sebab pernyataan inilah yang paling sering kau jadikan  pelurumu dalam menyangkal nasihat-nasihat kawanmu tentang jilbab.  Seringkali ku dengar para wanita mengucapkan ini dengan senyum  mengembang dan rasa puas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku bertanya padamu saudaraku,  apa yang kau maksudkan dengan “menjilbab<em> </em>i&#8221;?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah  maksud dari menjilbabi olehmu adalah <strong>mensucikan</strong>, <strong>membersihkan</strong>,<strong> memperbaiki</strong> bagitu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Baiklah aku ambil kesimpulan  bahwa saat ini kau tengah berupaya memperbaiki, membersihkan dan  mensucikan hatimu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu bagaimana upayamu sejauh ini?</p>
<p>Apa  yang tengah kau lakukan untuk memperbaiki dan mensucikan hatimu  tersebut?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku, semoga Allah memperbaiki urusanmu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku  beri tahu sesuatu yang sangat penting untuk kau ketahui. Bahwa  mensucikan hati dan menjadikannya bersih dari segala kotoran dan  penyakit tidaklah dapat ditempuh kecuali dengan beberapa sebab seperti  meninggalkan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah, melakukan  ketaatan dan memperbanyak bertaubat kepada-Nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah  Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p><strong><em>“Katakanlah kepada orang laki-laki  yang beriman hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga  kehormatannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka sesungguhnya  Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”</em> [An-Nur: 30]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah  Subhanahu wa Ta’ala mengatakan di dalam ayat ini bahwa sucinya hati itu  terjadi setelah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan, yaitu  menundukkan pandangan dari yang diharamkan Allah Ta’ala.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Barangsiapa  hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding  keinginan dan nafsu jiwanya.</em>(Ibnul Qayyim)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan wahai  saudaraku, dengan apa kau dapat <strong>menundukkan pandangan</strong> serta <strong>menjaga kehormatanmu</strong> jika bukan dengan berhijab?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka  kau telah keliru dalam berpandangan dan mengambil sikap. Kau mengira  dengan menunda berjilbab dan melakukan apa yang kau sebut dengan upaya  menjilbabi hati adalah sebuah cara yang sudah benar, ternyata  sebaliknya. Cobalah kau berpikir lagi, bagaimana mungkin kau dapat  mensucikan hatimu, sedang tidak kau tempuh sebuah upaya yang berarti.  Yang bahkan kau menunda-nunda kebaikan dan enggan untuk memenuhi  perintah Rabb-mu. Lalu dengan tersenyum kau berkata <em>“Aku ingin  menjilbabi hati dulu..”</em>. Tidakkah hal tersebut sia-sia belaka?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku,  tempuhlah sebab-sebabnya serta berlapang dadalah. Sungguh, mengenakan  jilbab dan menjaga kehormatanmu itulah cara tepat untuk<strong> menjilbabi</strong> hati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keenam</strong></p>
<blockquote><p><strong>“Yang  penting aku shalat 5 waktu, berpuasa pada Ramadhan dan mengeluarkan  zakat!”</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, kau benar saudaraku.  Shalat, berpuasa dan mengeluarkan zakat adalah amalan-amalan yang agung  dan termasuk kedalam kewajiban utama sebagai Muslim. Sebab islam  dibangun dengan 5 rukun yang 3 diantaranya apa yang telah kau sebutkan  tadi bukan? Kau pasti menghapal rukun tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun  tentu kau mengetahui betul bahwa <strong>syariat</strong> Islam yang  telah Allah turunkan dengan <strong>Hikmah</strong> dan <strong>Keadilan</strong>-Nya  ini bukanlah sebatas perkara shalat atau puasa saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau  tahu bahwa perintah mengenakan jilbab adalah nyata tertulis didalam  Kitabullah Al Karim. Bahwa tidak ada pertentangan dari zaman dahulu  hingga sekarang antara para ulama tentang wajibnya menutupi aurat. Jika  kau mendengar ada tokoh-tokoh yang menyerukan bahwa berjilbab tidaklah  wajib, maka yakinlah bahwa mereka sejatinya tidak menginginkan syariat  Allah melainkan mempertuankan <strong>hawa nafsu-</strong>nya .  Berdoalah kepada Allah agar dijauhkan dari kesesatan mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan  aku katakan padamu bahwa tidaklah Allah turunkan perintah dan larangan  bagi hamba-hamba-Nya kecuali Dia menghendaki kemudahan, kebaikan dan  keselamatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam Kitab-Nya yang mulia, Ar Rahman  berfirman yang artinya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>“Katakanlah kepada  wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan  kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang  (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain  kudung ke dadanya..”</em> [An-Nur: 31]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>“Hai  nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan  istri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke  seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk  dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> [Al-Ahzab: 59]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka  khawatirlah wahai saudaraku, jika jiwamu condong kepada menerima  syariat Allah yang satu lalu menolak syariat yang lainnya. Khawatirlah  dengan ucapanmu yang enggan berjilbab dengan mengatakan, <em>“Yang  terpenting aku shalat, puasa, dan berzakat..”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Khawatirlah  sebab Allah telah mencela Bani Israil, dengan sebab mereka melakukan  sebagian perintah dan meninggalkan sebagian yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>“…Apakah  kamu beriman kepada sebahagian AI-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap  sebahagian yang lain? Tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat  demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada  hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat, Allah  tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” </em> [Al-Baqarah: 85]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ketujuh</strong></p>
<blockquote><p><strong>“Jilbab  membatasi kebebasan saya!”</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagimu  jilbab membatasi kebebasanmu, namun bagiku sebaliknya. <em> Eye Shadow</em>,  <em>lipstick</em>, <em>short dress</em>, dan <em>high heels</em> lah  yang sama sekali telah membatasi kebebasanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu aku  bertanya, apa <strong>definisi kebebasan</strong> menurutmu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barangkali  kau hendak mengatakan bahwa kebebasan adalah<em> “Ketika aku bebas  melakukan apapun yang aku ingin lakukan”.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Demi  Allah, bukan itu yang Rabb-mu kehendaki wahai saudaraku..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebebasan  adalah dalam melakukan hal yang benar, bukan melakukan apapun yang  ingin kau lakukan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku kau seorang Muslimah. Dan kau  beriman kepada kitab Allah. Maka hal yang semestinya kau lakukan adalah  berbangga dengan<strong> identitas</strong> seorang muslimah yakni <strong>hijab</strong>.  Manakala orang-orang selainmu yakni kaum kafir berbangga dengan <em>hot  pant</em> dan <em>bikini</em> maka kau berbangga jilbabmu. Tidakkah  kau berpikir bahwa ini istimewa?</p>
<p>Hal isitimewa yang dikehendaki  oleh Pencipta-mu untukmu, yang tidak dikehendaki oleh wanita-wanita  kafir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahwa Dia menghendaki kemuliaan bagimu. Semakin  kau menutup rapat auratmu, maka semakin tinggi <strong>harga dirimu</strong> sebagai wanita. Semakin tinggi kehormatanmu. Dan ini adil sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku  sampaikan sebuah hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi  wasallam, bahwa beliau bersabda,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>“Sesungguhnya  di antara apa yang didapati manusia dari ucapan nabi-nabi yang  terdahulu adalah ‘Apabila engkau tidak malu, maka lakukan apa pun yang  engkau mau’.”</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lagi-lagi “malu” menjadi tolok  ukur seseorang dalam banyak perbuatannya. Bahwa orang yang menginginkan  untuk berbuat sesuka hati menandakan kurang sekali rasa malunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Benarlah  apa yang dikatakan seorang sahabat, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu  ‘anhu,</p>
<p><em>“Malu dan iman itu senantiasa ada bersama-sama. Bila  hilang salah satu dari keduanya, hilang pula yang lainnya.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan  benar sekali bahwa kau bebas untuk melakukan apa yang kau mau. Kau  bebas berbuat, berpikir, berucap. Kau bebas memilih beragama ataukah  tidak. Kau bebas memutuskan ingin menjilbabi tubuhmu atau tidak. Kau  bebas melangkahkan kakimu kemana saja kau inginkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;If  you feel no shame, then do as you wish&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan jangan putus  mengingat bahwa Tuhanmu pun <strong>bebas</strong> membuat perhitungan  denganmu. <em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedelapan</strong></p>
<blockquote><p><strong>“Ya,  aku tahu bahwa jilbab itu wajib bagi setiap wanita Muslim, namun aku  betul-betul belum siap. Aku khawatir jika jika dipaksakan, nantinya akan  <em>on-off</em> dalam memakainya”</strong></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Aku  nasihatkan pertama-tama untukku kemudian engkau wahai saudaraku agar  memperbanyak memohon ampun dan memohon hidayah kepada Rabb <strong>At  Tawwab </strong>dan <strong>Al Haadii</strong>, Rabb Yang Maha Penerima  Taubat serta Maha Pemberi Petunjuk. Berharaplah semoga dengan begitu  Allah melembutkan hati-hati kita dan memudahkan kita dalam melakukan  ketaatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh jika kau ketahui wahai saudaraku,  perintah yang Allah tujukan bagimu dan kau enggan melaksanakannya maka  siapakah yang kelak <strong>merugi</strong>? Apakah Dia, Allah Yang Maha  Suci akan merugi??</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku, bahkan jika seluruh makhluk  dari generasi pertama hingga generasi terakhir kalangan jin dan manusia  mendurhakai Allah hingga taraf  kedurhakaan paling tinggi, maka  tidaklah hal tersebut mengurangi kemuliaan Allah sedikitpun. Allah tidak  pernah rugi sama sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka semestinya kau mengetahui  bahwa yang rugi adalah dirimu sendiri. Allah tidaklah memaksamu memilih  jalan hidupmu. Bahkan kau bebas berbuat sekehendak hatimu. Dia hanya  menolongmu agar kelak kau selamat. Sebab Dialah yang menghisabmu nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan  wahai saudaraku yang semoga Allah memuliakanmu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku  percaya kau memiliki kepercayaan diri untuk berdiri dan mengatakan:</p>
<p><em>“Aku  yakin bisa memulai untuk menempatkan perintah Allah di atas keinginan  atau kekhawatiranku sendiri. Dengan pertolongan-Nya aku percaya dapat  melakukannya ‘Kami dengar dan kami taat’.”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketahuilah,  apabila niatmu benar dan ada kesungguhan atasnya maka dengan  pertolongan Allah, Dia-lah yang akan memberimu<strong> kesiapan</strong> dan <strong>kemantapan</strong>, tanpa perlu kau katakan,  <em>“..nanti  saja jika sudah mantap..” </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia pulalah yang  akan memberimu keistiqamahan. Tanpa perlu ragu dan mengatakan, <em>“..nanti  saja, khawatir jilbab-nya on-off”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesembilan</strong></p>
<blockquote><p><strong>“Suatu  hari nanti aku pasti berjilbab, tidak sekarang..!”</strong></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga  Allah memberi hidayah dan taufiq kepada kita..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Andaikan  sahabat karibmu saat ini meneleponmu kemudian berkata “Nonton yuk!”,  maka kemungkinan besar kau akan menjawab dengan bersemangat “yuk…kapan??  “</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lihatlah begitu semangatnya kau bersegera untuk  melakukan sesuatu demi kesenangan duniamu. Sedangkan untuk kesenangan di  akhiratmu kau mengatakan <em>“..tidak sekarang!”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saudaraku,  beritahu aku apa yang kau maksudkan dengan suatu hari nanti PASTI?</p>
<p>Jangan  katakan bahwa kau dapat meramal masa depanmu dimana kau mengataka,</p>
<p><em>“Hari  itu.. aku pasti memakai jilbab!”</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga Allah  memberimu kecerdasan. Kau tahu bahwa seorang yang cerdas adalah yang  paling banyak mengingat <strong>pemutus kelezatan</strong> (maut).  Cobalah berpikir untuk meluangkan sedikit waktumu demi mengingat<strong> kematian</strong>. Sebab yang pasti terjadi adalah hari dimana kau  mati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kau tidak pernah tahu kapan dan di bumi mana kau  akan diwafatkan. Maka berpikirlah kembali sebelum mengatakan, <em>“..  tidak sekarang, biarlah suatu saat nanti.” </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahkan  saudaraku, kau tidak pernah tahu apakah esok hari kau masih diberi  kesempatan oleh Rabb-mu menuju tempat kerjamu dengan gaya rambut  terbaru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Kesepuluh</strong></p>
<blockquote><p><strong>“Hidayah  belumlah sampai kepadaku..”</strong></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Saudaraku,  apabila kau menginginkan sebuah sepatu baru, anggaplah kau pernah  melihatnya di sebuah swalayan di kotamu. Kemudian kau duduk di rumahmu  tanpa mengupayakan sesuatu berupa uang yang cukup dan usahamu untuk  membeli sepatu tersebut lantas kau mengatakan,<em> “Aku berharap sepatu  dambaanku tersebut tiba dirumahku secepatnya.” </em>Apakah kau berpikir  sepatu tersebut akan benar-benar datang padamu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh  hidayah terlalu mahal untuk kau tunggui tanpa mengupayakan sesuatu yang  berarti saudaraku..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Sesuai dengan usaha yang engkau  berikan, </em></p>
<p><em>maka engkau akan mendapatkan apa yang engkau  angan-angankan.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bahwa <strong><em>“Allah  memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang  lurus.”</em> [Al-Baqarah: 213]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun hidayah  perlu untuk dipinta. Bahkan wajib bagi setiap hamba Allah untuk meminta  hidayah kepada-Nya.</p>
<p>Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman dalam  hadits qudsi yang artinya,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>“Wahai  hamba-hambaKu, kalian semua sesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk,  maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya kepada  kalian.”</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka lakukanlah sesuatu yang  berarti wahai saudaraku!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bersemangatlah untuk memperbanyak  meminta hidayah dan taufiiq kepada Allah Azza wajalla, serta tempuhlah  sebab agar semakin dekat dengan-Nya. Sungguh melakukan ketaatan dan  amalan shalih serta berupaya menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah  merupakan suatu upaya yang sangat berarti untuk memperoleh <strong>hidayah</strong> yang kau dambakan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai penutup, izinkanlah  aku mengutip sebuah nasihat indah dari seorang mantan petinju dunia, <strong>Muhammad  Ali</strong> kepada putrinya Hana. Barangkali saja semakin menambah  motivasimu untuk <strong>tidak menunda berhijab</strong>. Semoga Allah  menjagamu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>“Hana, segala sesuatu ciptaan  Allah yang berharga di muka bumi ini senantiasa tertutup dan sulit untuk  didapatkan. Di manakah engkau menemukan berlian? Jauh di dalam tanah,  tertutup dan terlindungi. Di manakah engkau menemukan mutiara? Jauh di  dasar samudera, tertutup dan terlindungi dalam sebuah cangkang yang  keras. Di manakah engkau menemukan emas? Jauh di dalam tanah yang  ditambah, tertutup oleh banyak lapisan batuan&#8230; Engkau harus bekerja  keras untuk mendapatkannya.”</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia  memandang dengan tatapan mata yang serius.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>“Demikian  pula tubuhmu. Jauh lebih berharga dari pada berlian dan mutiara, maka  engkau juga harus mengenakan hijab agar tertutup.”</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hanya  kepada Allah aku meminta agar menjadikan kita semua sebagai kunci-kunci  pembuka kebaikan dan penutup kejelekan, dan tidak ada daya serta upaya  kecuali dengan pertolongan Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahu Ta’ala A’lam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah  Saja-lah yang memberi taufiiq</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>21 Muharram 1432</p>
<p>Saudaramu  di jalan Allah</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/414/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=414&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2011/03/13/inilah-alasan-mengapa-aku-enggan-berjilbab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2011/03/niqab3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">niqab3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fenomena TKI di Arab Saudi</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/23/fenomena-tki-di-arab-saudi/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/23/fenomena-tki-di-arab-saudi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Nov 2010 00:33:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pemerintahan Islam atau masyarakat Islam bukanlah sebuah kumpulan orang-orang yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali, sehingga kita bisa menuduh para ulama yang membimbing masyarakat tersebut telah gagal atau tidak becus dalam membina negaranya. Bahkan di masa kepemimpinan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang masyarakatnya adalah generasi terbaik ummat ini, ada orang yang didera karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=410&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah pemerintahan Islam atau  masyarakat Islam bukanlah sebuah kumpulan orang-orang yang tidak pernah  berbuat dosa sama sekali, sehingga kita bisa menuduh para ulama yang  membimbing masyarakat tersebut telah gagal atau tidak becus dalam  membina negaranya. </p>
<p>Bahkan di masa kepemimpinan Rasulullah <em>shallallahu’alaihi  wa sallam</em> yang masyarakatnya adalah generasi terbaik ummat ini,  ada orang yang didera karena minum khamar<a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn1">[1]</a>,  ada yang dirajam karena berzina<a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn2">[2]</a>,  bahkan ada yang murtad keluar dari Islam<a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn3">[3]</a>.  Namun tidak ada satupun yang menuduh Rasulullah <em>shallallahu’alaihi  wa sallam </em>telah gagal mendidik para sahabatnya. Karena  memang, tidak ada satupun manusia yang terjaga dari kesalahan selain  para Nabi dan Rasul <em>‘alaihimussalam</em>, olehnya Rasulullah <em>shallallahu’alaihi  wa sallam</em> bersabda:</p>
<p><strong>كُلُّ بنِي آدَمَ خَطَّاءٌ ،  وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ</strong></p>
<p><em>“Setiap anak adam senantiasa berbuat  salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa  bertaubat.”</em> (<strong>HR. At-Tirmidzi</strong> dan <strong>Ibnu  Majah</strong>, dihasankan <strong>Asy-Syaikh Al-Albani</strong> dalam <strong>Shohihut  Targhib</strong>, no. 3139)</p>
<p><img src="http://aruhuriyya.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" class="mceWPmore mceItemNoResize" title="Selebihnya..."></p>
<p>Pengalaman belajar di Saudi, bergaul  dengan sebagian pekerja Indonesia yang kebetulan ketemu di masjid, di  jalan, di toko, di majelis-majelis ilmu dan dalam suatu bimbingan ibadah  haji tahun 1431 H atas permintaan sebuah travel yang pesertanya lebih  dari 90 % pekerja Indonesia, sisanya India, Maroko dan Philipina. Semua  itu menyisakan banyak cerita yang mungkin sebagiannya bisa dijadikan  pelajaran, terutama yang berkaitan dengan <strong>hubungan antara  pekerja dan majikan</strong>, yang oleh musuh-musuh Dakwah Tauhid  dijadikan senjata untuk menjatuhkan ulama Ahlus Sunnah di negeri ini.  Insya Allah akan kami sarikan dalam beberapa poin berikut:</p>
<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Para majikan tidak semuanya  memahami agama dengan baik, banyak yang awam, tidak mau belajar agama  dan banyak yang zalim terhadap pekerjanya<a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn4">[4]</a>.  Kepada mereka para ulama di negeri ini telah menasihati, baik secara  pribadi maupun terang-terangan, seperti nasihat <strong>Asy-Syaikh  Muhammad bin Ahmad Al-Fiyfiy</strong> <em>hafizhahullah</em> yang sangat  menyentuh di <a href="http://www.sahab.net/">www.sahab.net</a><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn5">[5]</a> yang berjudul <strong><em>At-Tahdzir min Zhulmil Khudam wal ‘Ummal </em></strong>(<strong>Peringatan  Keras dari Perbuatan Zalim kepada para Pembantu dan Pekerja</strong>).  Demikian pula para khatib dan imam masjid terkadang menyampaikan khutbah  tentang bahaya perbuatan zalim terhadap para pekerja</p>
<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Oleh karena itu, seharusnya TKI  diberikan informasi tentang keadaan calon majikannya sebelum dia  memutuskan bekerja kepada majikan tersebut, semoga hal ini bisa menjadi  catatan untuk semua pihak yang terkait dalam pemberangkatan TKI</p>
<p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alhamdulillah tidak semua  majikan yang zalim, masih banyak yang baik insya Allah, meskipun bukan  dari kalangan <em>mutawwa’<a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn6"><strong>[6]</strong></a></em>,  atau penuntut ilmu, apalagi masyaikh. Bentuk-bentuk kebaikan mereka  yang bisa saya ceritakan di sini:</p>
<ul>
<li>Dari 100 orang yang ikut haji dalam bimbingan kami hampir semuanya  dibiayai oleh majikannya, biayanya sekitar 3500 riyal atau senilai  kurang lebih 7,5 juta rupiah</li>
<li>Perhatian majikan kepada pekerjanya selama melaksanakan ibadah haji  dalam bentuk menelepon dan menanyakan kabar serta bagaimana pelayanan  travel terhadap mereka. Jika pekerjanya mengadukan pelayanan travel yang  kurang bagus, tidak lama kemudian majikan akan menelepon pengurus  travel ini dan memarahinya habis-habisan</li>
<li>Sampai-sampai ada majikan yang berkata kepada pekerjanya, “Sampaikan  kepada pengurus travel, berapa saja biaya yang dia minta akan saya  berikan, asalkan kamu mendapat pelayanan yang baik”.</li>
<li>Seorang Ikhwan dibebaskan oleh majikannya dari seluruh pekerjaannya  demi untuk menuntut ilmu, masih ditambah dengan uang saku per bulan  dikirim secara rutin oleh majikannya. Bahkan Ikhwan yang lain, sampai  pulang ke Indonesia masih dikirimi uang secara rutin oleh majikannya,  demi untuk membiayai kegiatan-kegiatan dakwah</li>
<li>Seorang pekerja asal Sumbawa, apabila dia cuti pulang kampung  majikannya biasa menitipkan uang untuk dibagi-bagikan kepada keluarga  dan tetangganya yang miskin</li>
<li>Pekerja asal Jawa Barat, mengabarkan tentang pembangunan masjid di  kampungnya yang belum selesai, langsung dikucurkan dana oleh majikannya  tanpa mengecek langsung ke lokasi apakah dananya sampai atau tidak</li>
<li>Seorang pekerja asal Jawa Barat, majikannya biasa mengantarnya untuk  menghadiri pengajian yang diadakan oleh Kantor Dakwah untuk Orang-orang  Asing</li>
<li>Seorang Ikhwan menceritakan, saudarinya bekerja pada seorang  masyaikh, bertahun-tahun bekerja kepada keluarga masyaikh tersebut tidak  pernah sekalipun dia berada dalam satu ruangan bersama majikannya yang  laki-laki</li>
<li>Seorang Ustadz menceritakan, bahwa seorang majikan meminta  bantuannya untuk menasihati pembantu wanitanya yang sering menggodanya  untuk berzina, akhirnya sang Ustadz menelepon dan menasihati pembantu  ini</li>
<li>Banyak majikan yang mensyaratkan supirnya harus disertai istrinya  untuk mengantar anak-anak puteri mereka ke sekolah. Demikian pula  sebaliknya, pembantu wanita harus datang bersama mahramnya</li>
<li>Para masyaikh banyak sekali membebaskan pekerja mereka dari semua  pekerjaan jika para pekerja ini benar-benar mau menuntut ilmu</li>
</ul>
<p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebenarnya aturan-aturan  pemerintah Saudi sangat menjamin para pekerja asing, diantaranya  kewajiban majikan untuk membuatkan asuransi kesehatan bagi para  pekerjanya dan hukuman yang setimpal bagi para majikan yang zalim  terhadap pekerjanya, berikut beberapa kasus yang kami dengarkan:</p>
<ul>
<li>Seorang majikan memukul supirnya, sang supir ini ditemukan oleh  seorang Ikhwan Saudi dan membawanya ke kantor polisi, saat itu juga  majikannya langsung dijemput dan ditahan oleh polisi dan wajib di<em>qishah</em> atau membayar sejumlah uang kepada pekerjanya yang dizalimi</li>
<li>Cerita seorang Ustadz, ada majikan yang dituntut oleh pengadilan  untuk membayar berapapun yang diminta oleh seorang pembantu wanita yang  dizalimi oleh si majikan</li>
<li>Seorang majikan yang membunuh pekerjanya terancam hukuman mati,  namun pihak keluarga di Indonesia lebih memilih untuk memaafkan dan  menerima ganti rugi (<em>diyah</em>), akhirnya uang milyaran rupiah  dititipkan melalui kedutaan Indonesia</li>
</ul>
<p>5.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketika majikan berbuat zalim,  masalah terbesar para pekerja Indonesia adalah tidak mampu melapor ke  kantor polisi, diantaranya karena kendala bahasa, tidak mengerti dengan  aturan-aturan yang ada dan tidak adanya pendamping mereka yang siap  siaga ketika dibutuhkan. Adapun pemerintah Philipina, sangat terkenal  pendampingan dan pembelaannya kepada pekerjanya, jika ada masalah yang  terjadi pada pekerjanya mereka akan langsung turun ke lokasi dan  menggunakan kekuatan diplomasinya untuk menekan pemerintah Saudi agar  memproses menurut hukum yang berlaku. Sehingga jarang terdengar ada  masalah antara majikan dan pekerja Philipina, padahal jumlah mereka (di  luar kota suci Makkah dan Madinah) tidak kalah banyak dengan pekerja  Indonesia</p>
<p>6.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Masalah terbesar dari sisi  syari’at adalah datangnya para pekerja wanita (TKW) tanpa disertai  mahram atau suami. Hampir semua masalah terjadi pada TKW yang tidak  bersama suami atau mahramnya, sehingga dengan mudah mereka dizalimi  tanpa ada yang membela mereka atau melaporkan ke kantor polisi. Padahal  Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> telah melarang safar wanita  tanpa mahram dalam sabda beliau:</p>
<p><strong>لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم ولا  يدخل عليها رجل إلا ومعها محرم</strong></p>
<p><em>“Janganlah wanita melakukan safar  (bepergian jauh) kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang  laki-laki asing menemuinya melainkan wanita itu disertai mahramnya.” </em>(<strong>HR.  Al-Bukhari</strong> dari <strong>Abdullah bin Abbas</strong> radhiyallahu’anhuma)</p>
<p>7.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Alhamdulillah, dengan sebab  kerja di Saudi banyak sekali pekerja yang mendapatkan kebaikan yang  sangat besar, diantara bentuknya:</p>
<ul>
<li>Banyak pekerja yang tadinya beraqidah <em>sufiyah quburiyah</em> dan  aqidah kesyirikan lainnya dengan berbagai macam bid’ahnya, tidak  melaksanakan sholat lima waktu dan tidak memahami adab-adab Islami.  Setelah tinggal di Saudi mereka tersentuh dakwah tauhid, meninggalkan  semua bentuk syirik dan bid’ah, rajin melaksanakan sholat lima waktu dan  mulai berhias dengan adab-adab Islami</li>
<li>Pekerja-pekerja Philipina, Nepal dan Sri Lanka yang tadinya beragama  Nasrani, Hindu dan Budha juga banyak sekali (sampai puluhan ribu orang)  yang masuk Islam dengan sebab da’i-da’i dan buku-buku yang dicetak  dengan bahasa mereka oleh Kantor-kantor Dakwah untuk Orang-orang Asing  di bawah naungan Kementrian Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Saudi Arabia</li>
<li>Bisa menghadiri majelis-majelis ilmu para ulama</li>
<li>Bisa melaksanakan ibadah haji dan umroh</li>
</ul>
<p>8.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sayang sekali, banyak Kantor  Dakwah untuk Orang-orang Asing disusupi oleh <em>hizbiyyun</em> dari  sebuah partai Islam di Indonesia dengan hanya bermodalkan ijazah LC dari  LIPIA<a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn7">[7]</a>,  diantara kerusakan yang mereka lakukan:</p>
<ul>
<li>Fasilitas dakwah digunakan untuk mendakwahkan kebatilan manhaj  mereka</li>
<li>Mengajak kepada perpecahan dengan menjajakan partai mereka di musim  Pemilu</li>
<li>Beberapa orang TKI yang ana temui, telah ikut kajian mereka  bertahun-tahun namun tidak nampak adanya perubahan dalam aqidah dan  ibadahnya menjadi lebih baik. Berbeda dengan TKI yang mengikuti kajian  da’i-da’i Ahlus Sunnah, <em>alhamdulillah</em> banyak yang berubah  menjadi lebih baik, seperti yang ana singgung di atas</li>
<li>Hal itu karena memang tidak ada perhatian mereka terhadap dakwah  tauhid dan sunnah kecuali sedikit, malah mereka lebih banyak  memanfaatkan para TKI untuk bisnis pengiriman barang dan travel haji,  dengan bimbingan haji yang tidak mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu’alaihi  wa sallam</em></li>
</ul>
<p>9.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kezaliman yang diderita sebagian  TKI bukan hanya oleh majikan di Saudi tapi juga oleh PJTKI maupun  calo-calonya di Indonesia. Ana pernah menyaksikan sendiri bagaimana para  TKI ini dibentak-bentak dan diperlakukan tidak seperti manusia di  tempat penampungan TKI di Jakarta. Bahkan ketika sudah bekerja di Saudi  sebagian TKI masih diwajibkan mengirim sejumlah uang setiap bulan kepada  calo-calo ini di Indonesia</p>
<p>10.&nbsp; Kami menghimbau kepada semua pihak  yang terkait dalam pemberangkatan TKI (termasuk keluarga para TKI)  ataupun yang diberi amanah oleh pemerintah untuk mengurus TKI di Saudi  maupun di negara lainnya; hendaklah bertakwa kepada Allah Ta’ala,  janganlah mengirim TKW tanpa disertai suami atau mahramnya dan hendaklah  melaksanakan tugas pembelaan dan pengurusan TKI sesuai amanah  pemerintah. Ingatlah pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat!</p>
<p>Inilah catatan ringan kami, hasil dari  dialog dengan beberapa TKI, semoga bisa diambil pelajarannya baik oleh  TKI, calon TKI maupun semua pihak yang terkait dalam pengurusan TKI.  Semoga Allah Ta’ala memperbaiki keadaan kaum muslimin dan pemerintah  mereka.</p>
<p><em>Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal  Musta’an.</em><em> </em></p>
<p><em>Footnote:</em></p>
<div><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref1">[1]</a> <strong>Al-Imam Al-Bukhari</strong> <em>rahimahullah</em> meriwayatkan  dalam <em><strong>Shahih</strong></em>nya (6391):&nbsp;
<div>
<p><strong>عن أنس بن مالك رضي الله عنه : أن  النبي صلى الله عليه و سلم ضرب في الخمر بالجريد والنعال وجلد أبو بكر  أربعين</strong></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref2">[2]</a> Seperti kisah <strong>Ma’iz bin Malik</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em> dalam riwayat <strong>Al-Bukhari</strong> (6438) dan <strong>Muslim </strong>(4520)</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref3">[3]</a> Seperti kisah suami <strong>Ummu Habibah</strong> <em>radhiyallahu’anha</em> yang murtad di negeri Habasyah</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref4">[4]</a> Ada juga majikan atau orang Saudi yang Sufi (murid-muridnya <strong>Alwi  Al-Maliki</strong>), Syi’ah dan Hizbi Ikhwani. Salah seorang Ustadz  kita, ketika diketahui oleh majikannya yang Ikhwani bahwa Ustadz kita  ini pernah belajar di <strong>Darul Hadits Dammaj</strong>, majikannya  mulai mempersulit ruang gerak beliau, sampai saat ini beliau dipaksa  pulang ke Indonesia dengan membayar ganti rugi kepada majikannya sebesar  6000 riyal. Adakah yang mau membantu?</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref5">[5]</a> http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&amp;Show=829</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref6">[6]</a> <em>Mutawwa’</em> adalah istilah orang-orang awam di Saudi untuk  menyebut orang yang nampak keshalihannya dan menjalankan sunnah seperti  jenggot dan memendekkan pakaian (tidak sampai menutupi mata kaki)</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref7">[7]</a> Lebih disayangkan lagi, ada seorang Ustadz terkenal, penerjemah buku <strong>Syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab</strong> <em>rahimahullah</em> yang dicetak  oleh Kantor Kerjasama Dakwah dan Bimbingan Islam di Riyadh, yang  memberikan jalan kepada da’i-da’i hizbi ini untuk masuk menjadi  pembina-pembina TKI di Kantor-kantor Dakwah untuk Orang-orang Asing di  Saudi</p>
<p>http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/</p></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/410/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=410&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/23/fenomena-tki-di-arab-saudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aruhuriyya.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Harry Potter &#8220;Menyihir&#8221; Aqidah Umat (Lagi)</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/21/ketika-harry-potter-menyihir-aqidah-umat-lagi/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/21/ketika-harry-potter-menyihir-aqidah-umat-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Nov 2010 06:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Harry Potter]]></category>
		<category><![CDATA[sihir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Wira Mandiri Bachrun Harry Potter kembali lagi! Bagian pertama dari seri terakhir film siswa sekolah sihir Hogwarts ini kini kembali menyihir penduduk bumi, tidak terkecuali kaum muslimin. Kita saksikan sendiri mereka berduyun-duyun mengantri di bioskop-bioskop, mendownload atau menikmati DVD bajakannya di rumah. Tapi di balik ini semua, tahukah Anda kalau sihir adalah kekafiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=407&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <a href="http://www.facebook.com/wira.mandiri">Wira Mandiri Bachrun</a></p>
<p>Harry Potter kembali lagi! Bagian pertama dari seri terakhir film siswa  sekolah sihir Hogwarts ini kini kembali menyihir penduduk bumi, tidak  terkecuali kaum muslimin. Kita saksikan sendiri mereka berduyun-duyun  mengantri di bioskop-bioskop, mendownload atau menikmati DVD bajakannya  di rumah. Tapi di balik ini semua, tahukah Anda kalau sihir adalah  kekafiran yang besar, yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam?</p>
<p>Para ulama memasukkan sihir sebagai salah satu pembatal keislaman  terbesar. Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan dalam kitab  beliau Nawaqidul Islam,</p>
<p>&#8220;(Pembatal Keislaman) yang ketujuh: Sihir, termasuk sharf dan &#8216;athaf.[1]  Dalilnya adalah firman Alla ta&#8217;ala,</p>
<p>وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ  فَلا تَكْفُرْ</p>
<p>Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum  mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu  janganlah kamu kafir&#8221;. (Al Baqarah: 102).&#8221;</p>
<p><span id="more-407"></span></p>
<p>Asy Syaikh Shalih Al Fauzan berkata,</p>
<p>&#8220;Perbuatan sihir ini adalah kufur, dalilnya firman Allah ta&#8217;ala,</p>
<p>وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ</p>
<p>“Akan tetapi syaithan-syaithan itulah yang kafir, mereka mengajarkan  sihir kepada manusia.” (Al Baqarah: 102)</p>
<p>Mempelajari sihir dan mengajarkannya adalah kufur kepada Allah dan  termasuk jenis kemurtadan, maka tukang sihir adalah murtad. Jika dia  seorang mu&#8217;min kemudian berbuat sihir sungguh dia telah murtad dari  agama Islam dan dihukum bunuh (oleh pemerintah muslim –pent) tanpa  dimintai taubat terlebih dahulu menurut sebagian ulama. Hal ini karena  walaupun zhahirnya dia telah bertaubat, namun dia tetap menipu manusia.  Ilmu sihirnya akan tetap muncul dari hatinya walaupun dia telah  bertaubat.</p>
<p>Dalilnya firman Allah ta&#8217;ala,</p>
<p>وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ  فَلا تَكْفُرْ</p>
<p>Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum  mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu  janganlah kamu kafir&#8221;. (Al Baqarah: 102) [2]</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah, sebuah komite tetap pengkaji fatwa dan ilmu  keislaman di Kerajaan Saudi Arabia mengatakan,</p>
<p>&#8220;Dan pendapat yang shahih bahwa penyihir dibunuh sebagai hukuman hadd  karena kemurtadannya. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Malik, dan  Ahmad rahimahullah. Penyihir dihukum bunuh karena kekafiran dan sihir  yang ada padanya secara mutlak.</p>
<p>وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا  كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ  النَّاسَ السِّحْرَ</p>
<p>&#8220;Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa  kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan  sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya  syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan  sihir kepada manusia. (Al Baqarah: 102)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan kafirnya pelaku sihir secara mutlak.&#8221; [3]</p>
<p>Setelah jelas bagi kita kafirnya perbuatan sihir, lalu ada yang  menyanggah, &#8220;Kita sekarang tahu kalau sihir itu kekafiran, tapi bukankah  kita cukup dewasa untuk tahu bahwa ini semua hanya fantasi, imajinasi  JK Rowling yang kemudian dituangkan menjadi film? Atraksi sihirnya pun  hanya trik-trik yang dilahirkan oleh special effect, bukan karena  mantera-mantera sihir si Harry? Sudahlah, jangan terlalu ekstrim… Anggap  saja ini sebagai hiburan…&#8221;</p>
<p>Maka kita jawab, itu semua tidak menafikan bahaya menonton film ini.  Perlu Anda ketahui bahwa iblis tidaklah menggoda anak Adam dengan  langsung menarik mereka kepada kekafiran, tapi sedikit demi sedikit Anda  akan dijerat, ditarik ke dalam perbuatan dosa, sampai pada akhirnya  tanpa Anda sadari Anda terjatuh dalam kesyirikan.</p>
<p>Al Imam Al Qurthubi berkata di dalam tafsir beliau terhadap firman Allah  ta&#8217;ala,</p>
<p>وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ  اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ  حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ</p>
<p>&#8220;Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al  Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan  diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk  beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena  Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan  mereka.&#8221; (An Nisa: 140)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan wajibnya menjauhi pelaku maksiat apabila dia  menampakkan kemungkaran secara zhahir karena barangsiapa yang tidak  menjauhi mereka maka sungguh dia telah ridha dengan perbuatannya.  Keridhaan terhadap kekufuran adalah kekufuran juga. Allah berfirman,</p>
<p>إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan  mereka.&#8221; (An Nisa: 140)</p>
<p>Ridha kepada maksiat adalah kemaksiatan pula. Oleh karena itu pelaku dan  orang yang ridha dihukumi dengan hukuman pelaku maksiat sampai mereka  seluruhnya binasa. &#8221; [4]</p>
<p>Demikian pula Asy Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi berkata,<br />
&#8220;Sihir adalah kesyirikan. Barangsiapa yang melakukan sihir dengan  mempelajarinya, mengajarkannya, memperbuatnya atau ridha dengannya maka  dia kafir. Karena ridha dengan kekafiran adalah kekafiran pula.  Barangsiapa yang ridha dengan kesyirikan, dia pun musyrik.&#8221;[5]</p>
<p>Kalau sudah jelas begini, bukankah lebih baik kita berhati-hati dan  menjaga aqidah kita? Kita memohon kepada Allah agar menghindarkan diri  kita dari perkara-perkara yang merusak aqidah kita dan agar Allah  meneguhkan hati kita di atas agama ini.</p>
<p>CATATAN KAKI:</p>
<p>[1] Sharf adalah sihir yang membuat seseorang menjauh dari pasangannya.  Setelah tersihir dia seolah-seolah melihat pasangannya dalam bentuk yang  jelek sehingga dia menjauhi pasangannya. Adapun &#8216;athaf sebaliknya.  Sihir ini membuat orang jatuh hati kepada orang lain, kalau di negeri  kita sering disebut guna-guna. (Lihat kitab Tabshiratul Anam bis Syarhi  Nawaqidil Islam, Asy Syaikh Abdul Aziz Ar Rojihi, hal 43-44)</p>
<p>[2] Syarah Nawaqidil Islam, hal 28</p>
<p>[3] Fatawa Lajnah Daimah 1/369, no 4804, melalui perantaraan Al Qaulul  Mufid karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Yamani, hal. 138.</p>
<p>[4] Tafsir Al Qurthubi 5/418, melalui perantaraan Masa&#8217;il &#8216;ala Nawaqidul  Islam, Abu Abdillah Nashir Al Adeni hal. 72.</p>
<p>[5] Tabshiratul Anam bis Syarhi Nawaqidil Islam (hal.32-33)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Wira Mandiri Bachrun<br />
Darul Hadits, Syihir – Hadramaut<br />
Sabtu, 4 Dzulhijjah 1431 H/ 20 November 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/407/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=407&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/21/ketika-harry-potter-menyihir-aqidah-umat-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenali Ciri-ciri TERORIS Khawarij</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/05/mengenali-ciri-ciri-teroris-khawarij/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/05/mengenali-ciri-ciri-teroris-khawarij/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 02:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Buletin Islam AL ILMU Edisi:41/XI/VIII/1431 Pembaca yang mulia, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua memahami agama Islam ini dengan pemahaman yang benar sehingga kita tidak salah dalam mengamalkan agama ini dan selamat dari berbagai kerancuan dalam memahaminya. Sebagaimana dapat kita saksikan, banyak orang merasa mengamalkan agama Islam ini namun ternyata agama Islam sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=403&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/tulips_of_winter_by_isaacster39.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-404" title="Tulips_of_Winter_by_isaacster39" src="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/tulips_of_winter_by_isaacster39.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a></p>
<p><strong>Buletin Islam AL ILMU  Edisi:41/XI/VIII/1431</strong></p>
<p>Pembaca yang mulia, semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memudahkan kita semua memahami agama Islam ini dengan pemahaman yang  benar sehingga kita tidak salah dalam mengamalkan agama ini dan selamat  dari berbagai kerancuan dalam memahaminya. Sebagaimana dapat kita  saksikan, banyak orang merasa mengamalkan agama Islam ini namun ternyata  agama Islam sendiri berlepas diri dari tindakan dan perbuatan mereka,  seperti yang terjadi pada para teroris khawarij.</p>
<p>Para pembaca yang mulia, belakangan ini isu-isu terorisme menghantui  masyarakat kita. Hal itu disebabkan maraknya aksi teror di tanah air di  satu sisi. Di sisi lain, adanya tindakan tegas dari pemerintah tehadap  para teroris tersebut sebagai pelajaran untuk mereka dan sekaligus  sebagai pengamanan bagi masyarakat dari aksi teror tercela tersebut.  Namun, muncul sebuah paradigma yang keliru pada sebagian masyarakat  dalam menilai (memvonis) siapakah para teroris tersebut. Oleh karena  itu, ikutilah pembahasan berikut ini agar tidak salah dalam menilai  (memvonis)!</p>
<p><span id="more-403"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ideologi Teroris Khawarij</strong></p>
<p>Mengapa kami memberi embel-embel kata teroris dengan kata Khawarij?  Karena, kata teroris secara mutlak memiliki makna yang luas. Aksi teror  telah dilakukan oleh banyak kalangan, baik yang mengatasnamakan Islam  ataupun non-Islam, semacam yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi  terhadap bangsa Palestina pada masa kini, dan semacam yang dilakukan  oleh Sekutu terhadap bangsa Jepang dalam peristiwa pengeboman Nagasaki  dan Hiroshima di masa lalu. Sehingga dengan penambahan kata “Khawarij”  di belakang kata teroris, akan mempersempit pembahasan kita. Pembahasan  kita hanya tentang orang-orang yang melakukan aksi-aksi teror di negeri  kita akhir-akhir ini yang mengatasnamakan Islam atau mengatasnamakan  jihad. Adapun Khawarij, merupakan sebuah kelompok sempalan yang  menyempal dari <em>Ash-Shirathul Mustaqim</em> (jalan yang lurus) dengan  beberapa ciri khas ideologi mereka.</p>
<p>Mengapa kami menyebutnya ideologi? Karena mereka memiliki sebuah  keyakinan yang hakikatnya bersumber dari sebuah ide. Maksud kami, sebuah  penafsiran akal pikiran yang keliru terhadap <em>nash</em> (teks)  Al-Qur’an atau Al-Hadits. Dari sinilah kemudian mereka menyempal. Sekali  lagi, hal ini terjadi akibat penafsiran yang salah terhadap Al-Qur’an  dan Al-Hadits, bukan akibat penafsiran yang apa adanya, yang menurut  sebagian orang kaku atau <em>“saklek“</em>, dan tidak pantas dikatakan  sebagai salah satu bentuk ijtihad dalam penafsiran Al-Qur’an maupun  Al-Hadits. Sehingga, ideologi mereka sama sekali tidak bisa disandarkan  kepada Islam yang benar. Demikian pula aksi-aksi teror mereka sama  sekali tidak bisa dikaitkan dengan ajaran Islam yang mulia nan indah  ini. Bahkan Islam berlepas diri dari mereka. Lebih dari itu, Islam  justru sangat mengecam mereka, di mana Rasulullah <em>Shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> mengancam akan memerangi mereka jika beliau  mendapati mereka. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2>لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ  لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ</h2>
<p><em>“Jika aku mendapati mereka, maka sungguh aku akan memerangi  mereka seperti dimusnahkannya kaum ‘Ad.“</em> (<strong>HR. Al-Bukhari </strong>dan  <strong>Muslim</strong>)</p>
<p><strong>Mengidentifikasi Ciri-ciri Teroris Khawarij</strong></p>
<p>Kami merasa perlu untuk membahas secara singkat tentang ciri-ciri  teroris Khawarij, karena kami melihat telah terjadi salah kaprah dalam  hal ini. Kami memandang bahwa tidak tepat bila seseorang menilai orang  lain sebagai teroris atau sebagai orang yang terkait dengan jaringan  teroris, ataupun mencurigainya hanya berdasarkan dengan penampilan  lahiriah (luar) semata.</p>
<p>Mengapa? Karena pada kenyataannya, para pelaku teror tersebut selalu  berganti-ganti penampilan. Bahkan terkadang mereka cenderung memiliki  penampilan yang akrab dengan masyarakat pada umumnya untuk menghilangkan  jejak mereka. Sebagaimana yang terjadi pada Imam Samudra cs sebelum  ditangkap. Sehingga, penampilan lahiriah mereka –baik penampilan ala  masyarakat pada umumnya atau penampilan agamis– akan selalu ada yang  menyerupai. Berdasarkan hal ini, penampilan lahiriah semata tidak bisa  menjadi tolok ukur. Tatkala para teroris tersebut memakai topi pet,  celana panjang (pantalon), kaos, serta mencukur jenggot, kita tidak bisa  menjadikan hal-hal seperti ini sebagai ciri teroris. Tidak boleh bagi  kita untuk menilai orang yang serupa dengan mereka dalam cara berpakaian  ini sebagai anggota mereka.</p>
<p>Demikian pula sebaliknya. Ketika para teroris itu berpenampilan  Islami dengan memelihara jenggot, memakai celana di atas mata kaki,  memakai gamis, dan istrinya bercadar, kita juga tidak bisa menjadikan  penampilan seperti itu sebagai ciri teroris. Tidak boleh pula bagi kita  untuk menilai orang yang berpakaian seperti mereka ini sebagai anggota  jaringan mereka. Faktor pendorong orang-orang untuk berpenampilan agamis  adalah karena hal itu merupakan ajaran Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>. Semua itu tak ubahnya seperti ajaran agama Islam yang lain  semacam shalat, puasa, dan lain sebagainya –terlepas dari perbedaan  pendapat para ulama dalam hal cadar, apakah itu wajib atau sunnah–.  Bukankah para teroris Khawarij tersebut juga shalat dan berpuasa bahkan  mungkin melakukannya dengan rajin dan penuh semangat?! Lalu apakah kita  akan menilai shalat dan puasa sebagai ciri teroris? Sehingga kita akan  menuduh orang yang shalat dan puasa sebagai anggota jaringan teroris?  Tentu tidak. Hal seperti ini hendaknya direnungkan.</p>
<p>Maka kami mengingatkan diri kami dan semua pihak dengan firman Allah <em>Subhanahu  wa Ta’ala</em> (artinya):</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat  tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah  memikul kebohongan dan dosa yang nyata.“</em> (<strong>Al-Ahzab: 58</strong>)</p>
<p>Akan tetapi, di antara cara mengidentifikasi teroris Khawarij bisa  dilakukan dengan hal-hal berikut ini:</p>
<p>1.         Mereka memiliki pertemuan-pertemuan rahasia, yang tidak  dihadiri kecuali oleh orang-orang khusus.</p>
<p>2.         Mereka akan menampakkan kebencian terhadap penguasa  muslim. Dalam pertemuan-pertemuan khusus, mereka tak segan-segan  menganggap para penguasa muslim tersebut sebagai orang kafir.</p>
<p>3.         Mereka akan menampakkan pujian-pujian terhadap para  tokoh-tokoh Khawarij masa kini, semacam Usamah bin Laden  dan yang  sejalan dengannya.</p>
<p>4.         Mereka gandrung terhadap buku-buku hasil karya tokoh-tokoh  tersebut, juga buku-buku tokoh pergerakan semacam Sayyid Quthub, Salman  Al-‘Audah, Fathi Yakan, Hasan Al-Banna, Said Hawwa, dan yang sejalan  dengan mereka.</p>
<p>Ini semua sebatas indikasi yang mengarah kepada terorisme. Untuk  memastikannya, tentu perlu kajian  lebih lanjut terhadap yang  bersangkutan.</p>
<p><strong>Korban-korban Teroris Khawarij</strong></p>
<p>Pihak pertama, orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi baik dan  berupaya menapaki jejak Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.  Mereka menyadari pentingnya berpegang teguh dengan ajaran-ajaran beliau  <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mulia nan indah. Mereka  menyadari betapa bahayanya arus globalisasi yang tak terkendali terhadap  pribadi-pribadi mulia. Mereka berusaha mengamalkan ajaran Islam yang  benar pada diri dan keluarga mereka untuk melindungi diri dan keluarga  mereka dari berbagai kerusakan moral bahkan aqidah, sekaligus melindungi  diri dan keluarga mereka dari api neraka di hari akhirat, dalam rangka  mengamalkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> (artinya):</p>
<p><em>“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu  dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya  malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah  terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan  apa yang diperintahkan.“</em> (<strong>At-Tahrim: 6</strong>)</p>
<p>Pihak ini menjadi korban aksi para teroris. Karena para teroris  dengan aksi mereka, telah mencoreng Islam di mata masyarakat yang luas,  sehingga pihak ini menuai getah dari aksi para teroris tersebut. Pihak  ini akhirnya dicurigai oleh masyarakat sebagai bagian dari jaringan  teroris hanya karena adanya sebagian kemiripan pada penampilan luar,  padahal aqidah dan keyakinan mereka sangat jauh dan bertentangan.  Sehingga celaan, cercaan, sikap dingin, diskriminasi bahkan terkadang  intimidasi (ancaman) dari masyarakat kepada mereka pun tak terelakkan.  Maka kami nasihatkan kepada pihak ini untuk bersabar dan mengharap  pahala dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> atas segala cobaan yang  mereka dapatkan. Janganlah melemah, tetaplah istiqamah. Jadikan ridha  Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sebagai tujuan. Ingatlah pesan Nabi <em>Shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<h2>قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ  فَاسْتَقِمْ</h2>
<p><em>“Katakan: ‘Aku beriman kepada Allah‘ lalu istiqamahlah.“</em> (<strong>HR.  Muslim</strong> dari shahabat Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi <em>Radhiyallahu  ‘anhu</em>)</p>
<p>Pihak kedua, adalah orang awam pada umumnya. Tak sedikit dari mereka  ber-su‘uzhan (buruk sangka) kepada pihak pertama karena adanya aksi-aksi  teror tersebut. Mereka main pukul rata tanpa membedakan. Bahkan lebih  parah dari itu, aksi teror tersebut memunculkan fobi terhadap Islam pada  sebagian mereka, kecurigaan kepada setiap orang yang mulai aktif dalam  kegiatan-kegiatan keislaman. Bahkan mungkin sebagian orang curiga  terhadap Islam itu sendiri. Ya Allah, hanya kepada Engkaulah kami  mengadu. Betapa bahayanya kalau kecurigaan itu sudah sampai pada agama  Islam itu sendiri, sementara Islam berlepas diri dari kejahatan ini. Tak  pelak, tentu hal ini akan menumbuhkan rasa takut dan khawatir untuk  mendalami ajaran Islam dan untuk lebih mendekat kepada Allah <em>Subhanahu  wa Ta’ala</em> dengan berbagai amalan ibadah.</p>
<p>Nasihat kami kepada pihak ini, janganlah salah dalam menyikapi  masalah ini, sehingga menghalanginya untuk lebih mendalami Islam dan  lebih mendekat kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Pelajarilah  Islam dengan benar, ikuti jejak para <em>As-Salafush Shalih</em>, dari  kalangan para sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik, serta  menjauhi pemahaman ekstrim Khawarij dan menjauhi paham liberalisme serta  inklusivisme yang bermuara pada kebebasan yang luas dalam memahami  ajaran agama. Dengan cara ini, <em>insya Allah</em> mereka akan dapat  menilai mana yang benar dan mana yang salah. Jalan pun menjadi terang  sehingga mereka tidak akan salah dalam menentukan sikap dan tidak  terbawa oleh arus.</p>
<p>Pihak ketiga, anak-anak muda yang punya antusias terhadap agama. Aksi  teroris, penangkapan para teroris, dan berbagai berita yang bergulir  dan tak terkendali, juga merupakan ujian buat mereka. Berbagai sikap  tentu muncul darinya, antara pro dan kontra. Kami nasihatkan kepada  mereka agar bisa bersikap obyektif dalam menilai. Jangan berlebihan  dalam bersikap. Jangan menilai sesuatu kecuali berdasarkan ilmu, baik  ilmu agama yang benar yang menjadi barometer dalam menilai segala  sesuatu, maupun ilmu (baca: pengetahuan) terhadap hakikat segala yang  terjadi. Lalu terapkanlah barometer tersebut pada hakikat realita yang  terjadi. Jangan terbawa emosi karena larut dalam perasaan yang dalam.</p>
<p>Kami nasihatkan kepada anak-anak muda yang bersemangat dalam  menjunjung nilai-nilai Islam, agar mereka tidak salah memilih jalan. Ada  73 (tujuh puluh tiga) jalan yang berlabel Islam di hadapan anda. Pada  masing-masing jalan ada yang menyeru anda untuk menjadi anggotanya. 72  (tujuh puluh dua) jalan menuju An-Nar (neraka) dan hanya ada 1 (satu)   jalan yang menuju Al-Jannah (surga). Bila tidak berhati-hati, anda akan  menjadi anggota penghuni neraka. Karenanya, ikutilah petunjuk Nabi <em>Shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> dalam menentukan jalan di tengah-tengah  perselisihan yang banyak! Ikuti Sunnah Nabi dan para  Khulafa’ur-rasyidin! Jauhilah bid’ah! Itulah jalan yang dapat  mengantarkan anda menuju Al-Jannah (surga).</p>
<p>Demikian apa yang bisa kami sumbangkan kepada Islam dan muslimin  serta umat secara umum terkait masalah ini. Kami memohon maaf atas  segala kekurangan dan kesalahan. Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menerima amal kita semua. Ampunan-Nya senantiasa kita mohon sampai kita  berjumpa dengan-Nya pada hari yang harta dan anak sudah tidak lagi  bermanfaat padanya, kecuali mereka yang datang kepada-Nya dengan qalbu  (hati) yang bersih.</p>
<p>http://www.buletin-alilmu.com/?p=532</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=403&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/05/mengenali-ciri-ciri-teroris-khawarij/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/tulips_of_winter_by_isaacster39.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Tulips_of_Winter_by_isaacster39</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dalil Ahlus Sunnah tentang Men-sirr-kan Bismillah dalam Shalat Jahriah</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/03/dalil-ahlus-sunnah-tentang-men-sirr-kan-bismillah-dalam-shalat-jahriah/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/03/dalil-ahlus-sunnah-tentang-men-sirr-kan-bismillah-dalam-shalat-jahriah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 00:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Abu Anas Abdullah Al-Medani الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد Sesungguhnya Islam merupakan agama yang sempurna. Tidak ada satu perkarapun kecuali telah dijelaskan di dalam Islam. Apabila dalam perkara seperti bersisir dan istinja’ saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=393&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/park-bench-autumn.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-394" title="park-bench-autumn" src="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/park-bench-autumn.jpg?w=150&#038;h=120" alt="" width="150" height="120" /></a></p>
<p>Oleh   : Abu Anas Abdullah Al-Medani</p>
<p><strong>الحمد  لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله إلا  الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد</strong></p>
<p>Sesungguhnya Islam merupakan agama yang  sempurna. Tidak ada satu perkarapun kecuali telah dijelaskan di dalam  Islam. Apabila dalam perkara seperti bersisir dan istinja’ saja telah  ada penjelasannya di dalam Islam, apatah lagi pada perkara yang lebih  besar seperti shalat. Oleh karena itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم   memerintahkan kita agar mengikuti dan mencontoh beliau dalam seluruh  amalan shalat kita. Beliau صلى الله عليه وسلم mengatakan:</p>
<p><strong>(</strong><strong>صلوا  كما رأيتموني أصلي (رواه البخارى</strong><strong> </strong></p>
<p>“Shalatlah kalian sebagaimana kalian  melihat aku shalat”(HR.Bukhari).</p>
<p>Oleh sebab itu para sahabat  رضى الله  عنهم sangat bersemangat untuk menghadiri dan menyaksikan shalat beliau  صلى الله عليه وسلم , baik shalat fardhu maupun nafilah agar dapat  mencontoh praktek shalat yang beliau kerjakan. Kemudian mereka  mengkhabarkan kepada orang-orang yang setelahnya di dalam hadits-hadits  yang diriwayatkan dari mereka. Dan terus menerus hadits-hadits tersebut  diriwayatkan dan disampaikan kepada orang-orang yang setelahnya hingga  sampai kepada kita. Sehingga orang-orang yang tidak pernah bertemu  dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم  dapat mengetahui cara shalat  beliau dari khabar yang datang dari mereka. Kemudian mereka dapat  melaksanakan shalat tersebut seperti apa yang dicontohkan oleh  Rasulullah صلى الله عليه وسلم .</p>
<p><span id="more-393"></span></p>
<p>Sebagaimana ibadah yang lain, maka  shalat memiliki rukun dan syarat yang wajib dipenuhi bagi orang yang  ingin mengerjakannya. Dan diantara rukun shalat yang tidak akan sah  shalat seseorang tanpanya adalah membaca Al Fatihah, sebagaimana  perkataan Rasulullah صلى الله عليه وسلم :</p>
<p><strong>لَا  صَلَاةَ لِمَن</strong><strong>ْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ</strong></p>
<p>“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak  membaca Fathihatul Kitab (surat Al Fatihah)”<strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftn1">[1]</a></strong>.</p>
<p>Dan surat Al Fatihah yang wajib dibaca  setiap shalat terdiri dari tujuh ayat. Sebagaimana perkataan Rasulullah  صلى الله عليه وسلم :</p>
<p><strong>مَا  أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ  مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ </strong><strong>السَّبْعُ الْمَثَانِي</strong><strong> (وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ</strong></p>
<p>“Tidaklah Allah عزوجل menurunkan di  dalam Taurat dan juga di dalam Injil yang seperti <em>ummul Qur’an</em> (surat Al Fatihah). Dan dia adalah <em>Sab’ul Matsani</em> (tujuh ayat  yang dibaca berulang-ulang), dan Al Qur’an yang agung”<strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftn2">[2]</a></strong>.</p>
<p>Berkata Al-Baaji : “Beliau memaksudkan  dengannya kepada perkataan Allah Ta’la :</p>
<p><strong>وَلَقَدْ  آتَيْنَاكَ سَبْعاً مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ</strong></p>
<p>Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami telah  berikan kepadamu <em>Sab’ul Matsani</em> dan Al Quran yang agung”.(<strong>QS.  Al-Hijr : 87).</strong></p>
<p>Dan dinamakan “ <em>Sab’u</em>” karena  dia tujuh ayat, dan <em>Matsani</em> karena dia diulang-ulang bacaannya  dalam setiap raka’at shalat”.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Maka dari ini kita ketahui bahwa  <em>bismillah</em> termasuk bagian dari tujuh ayat surat Al Fatihah  yang wajib juga dibaca ketika shalat dan tidak akan sah shalat seseorang  yang tidak membacanya</strong>.</p>
<p>Akan tetapi yang menjadi permasalahan,  apakah membacanya dengan jahr (mengeraskannya) atau dengan sirr-  (memelankannya)?</p>
<p>Sebagaimana perkara yang sudah kita  ketahui, bahwasanya wajib di dalam shalat kita untuk mencontoh praktek  shalat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dan kita tidak akan mengetahui  bagaimana cara shalat beliau kecuali melalui pengkhabaran orang-orang  yang pernah melihat langsung shalat beliau, yakni para sahabat  Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang terdapat di dalam hadits-hadits yang  shahih yang diriwayatkan dari mereka. Termasuk juga dalam permasalahan  ini (yakni mensirr-kan atau menjahrkan bismillah).</p>
<p>Dan hadits-hadits yang menceritakan  tentang yang demikian<strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftn3">[3]</a></strong> cukup banyak diriwayatkan di dalam shahihain (Bukhari, Muslim) dan  selainnya.</p>
<p>Diantaranya hadits yang dikeluarkan oleh  Imam Bukhari (2/188) ,di dalam “SIFAT SHALAT” , bab “APA YANG DIUCAPKAN  SETELAH TAKBIR” :</p>
<p><strong>عَنْ  أَنَسِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا  بَكْرٍ وَعُمَرَ </strong><strong>كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاة</strong><strong>َ  بِ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong></p>
<p>“Dari Anas bahwasanya Nabi صلى الله عليه  وسلم ,dan Abu Bakar, dan Umar mereka  membuka bacaan shalat mereka dengan الحمدلله الرب العالمين “</p>
<p>Dan dalam riwayat Imam Tirmizi (no:246) :</p>
<p><strong>عَنْ  أَنَسٍ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ </strong><strong>وَأَبُو  بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَان</strong><strong>ُ يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ  بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong></p>
<p>“Dari Anas dia mengatakan adalah  Rasulullah dan Abu Bakar dan Umar dan Utsman mereka membuka bacaan shalat mereka  dengan الحمدلله الرب  العالمين “.</p>
<p>Dan Imam Muslim mengeluarkan dalam  “KITAB SHALAT”, bab “DALIL ORANG YANG TIDAK MENJAHRKAN BISMILLAH” :</p>
<p><strong>عَنْ  أَنَسٍ أيضا </strong><strong>قَالَ</strong><strong> </strong><strong>صَلَّيْتُ  مَعَ رَسُولِ اللَّه</strong><strong>ِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ  يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</strong></p>
<p>“Dari Anas juga dia mengatakan : “Aku  pernah shalat bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم , Abu Bakar, Umar  dan Utsman, maka aku tidak  pernah mendengar seorang dari mereka membaca بسم الله الرحمن الرحيم “.l<strong>[4]</strong></p>
<p>Dan dalam riwayat yang lain:</p>
<p><strong>صَلَّيْتُ  خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى</strong><strong> اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ </strong><strong>رَضِيَ اللَّهُ  عَنْهُم</strong><strong>ْ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ </strong><strong>الصَّلَاة</strong><strong>َ  بِ{ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ  اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا</strong></p>
<p>“Aku shalat di belakang nabi صلى الله  عليه وسلم , Abu Bakar, Umar, dan Utsman<em> </em>رضى الله عنهم , maka mereka membuka bacaan shalat  dengan الحمدلله الرب  العالمين , tanpa  menyebutkan بسم الله  الرحمن الرحيم baik di  awal bacaan atau di akhirnya”.<strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftn5">[5]</a></strong></p>
<p>Dan meriwayatkan Imam An Nasa’i dalam  “SUNAN” nya:</p>
<p><strong>عَنْ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ</strong><strong> </strong><strong>صَلَّى  بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى</strong><strong> اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَلَمْ يُسْمِعْنَا قِرَاءَةَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</strong><strong>, </strong><strong>وَصَلَّى بِنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَلَمْ  نَسْمَعْهَا مِنْهُمَا</strong></p>
<p>“Dari Anas bin Malik dia mengatakan:  “Shalat bersama kami Rasulullah صلى الله عليه وسلم  maka beliau tidak memperdengarkan  kepada kami bacaan بسم  الله الرحمن الرحيم , dan shalat bersama kami Abu Bakar dan Umar maka kami tidak mendengarnya dari  keduanya”<strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftn6">[6]</a></strong>.</p>
<p>Dan dalam riwayat lain dari beliau :</p>
<p><strong>صَلَّيْتُ  خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى</strong><strong> اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ  فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَجْهَرُ بِ{ </strong><strong>بِسْمِ  اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم</strong><strong>ِ<br />
</strong></p>
<p>“Aku pernah shalat di belakang  Rasulullah صلى الله عليه وسلم , Abu Bakar , Umar dan Utsman رضى الله  عنهم , maka aku tidak pernah  mendengar salah seorang dari mereka menjahrkan بسم الله الرحمن الرحيم “l<strong>[7]</strong>.</p>
<p>Dan meriwayatkan Imam Ahmad (3/264), dan  At Thahawi (1/119) dan Ad Daruqutni (119), mereka mengatakan padanya:</p>
<p><strong>…</strong><strong>فَكَانُوا لَا يَجْهَرُونَ بِ{ </strong><strong>بِسْمِ  اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم</strong><strong>ِ<br />
</strong></p>
<p>“…maka mereka tidak menjahrkan بسم الله الرحمن الرحيم “</p>
<p>Dan meriwayatkan Ibnu Hibban dalam  “SHAHIH” nya, dan menambahkan :</p>
<p><strong>و</strong><strong>يجهرون</strong><strong> بـ ( الحمد لله رب العالمين</strong><strong>&#8230; </strong></p>
<p>“… Dan mereka menjahrkan الحمدلله الرب  العالمين  “</p>
<p>Dan dalam lafaz Abu Ya’la Al Mushili  dalam “MUSNAD” nya:</p>
<p><strong>&#8230;فكانوا  يستفتحون القراءة فيما يجهر به بالحمدلله الرب العالمين</strong></p>
<p>… Maka mereka membuka bacaan yang dijahrkan dengan الحمدلله الرب العالمين</p>
<p>Dan dalam lafaz Thabrani dalam “MU’JAM”  nya dan Abu Nu’aim dalam “AL HILYAH”, dan Ibnu Khuzaimah dalam “SHAHIH”  nya dan At Thahawi dalam “SYARAH MA’ANI ATSAR” :</p>
<p><strong>&#8230;  وكانوا يسرون ببسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p>“… Dan mereka mensirr-kan بسم الله الرحمن الرحيم ”.</p>
<p>Berkata syaikh Abdullah bin Shalih Alu  Bassam رحمه الله : “Menyebutkan Anas bin Malik رضى الله عنه bahwasanya  dia bersamaan lamanya bersahabat dengan nabi صلى الله عليه وسلم  dan  senantiasanya menyertai beliau dan juga para <em>khulafa’ Ar Rasidhin</em>,  <strong>tidak pernah beliau mendengar salah seorang dari mereka membaca  (menjahrkan) </strong><strong> بسم الله الرحمن الرحيم</strong> di dalam  shalat baik di awal bacaan maupun di akhirnya, dan hanya saja mereka  membuka shalat dengan الحمدلله الرب العالمين”.</p>
<p>Berkata Az Zaila’i di dalam “NASHBUR  RAAYAH” (1/327) : “Dan periwayat-periwayat hadits-hadits ini seluruhnya  terpercaya, ditampilkan dalam shahih seluruhnya”.</p>
<p>Berkata syaikh Albani رحمه الله  di  dalam “TAMAMUL MINNAH” (hal: 169) : “Dan yang benar bahwasanya tidak ada  tentang menjahrkan bismillah hadits yang tegas menyatakan demikian yang  shahih, <strong>bahkan yang shahih dari beliau </strong><strong>صلى  الله عليه وسلم</strong><strong> mensirr-kannya dari hadits Anas</strong>,  dan aku telah mendapatkan baginya sepuluh jalan yang aku sebutkan di  dalam takhrij “SIFAT SHALAT NABI صلى الله عليه وسلم ” yang kebanyakannya  shahih sanadnya, dan pada sebahagian lafaznya menegaskan bahwasanya  beliau صلى الله عليه وسلم tidak pernah menjahrkannya, dan sanadnya  shahih berdasarkan syarat Muslim, dan ini merupakan mazhab <em>jumhur  fuqaha’ </em>dan kebanyakan ulama hadits dan dialah yang benar yang  tidak ada keraguan padanya”.</p>
<p>Berkata Ibnu Daqiq Al ‘Ied : “Dan yang  diyakini dari hadits ini adalah <strong>tidak menjahrkan (yakni  bismillah)</strong>, dan Anas<em> </em>telah bersahabat dengan  Rasulullah صلى الله عليه وسلم  selama sepuluh tahun, dan bersahabat  dengan khalifah yang tiga selama dua puluh lima tahun dan dia shalat di  belakang mereka shalat-shalat seluruhnya.”</p>
<p>Inilah kumpulan dalil-dalil dan  penjelasan ulama yang menunjukkan tentang <strong>disyari’atkannya  mensirr-kan bismillah di dalam shalat jahriah</strong>. Adapun  dalil-dalil yang diriwayatkan dari nabi صلى الله عليه وسلم yang  menegaskan tentang menjahrkan bismillah maka tidak ada yang shahih.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله :  “… Akan tetapi tidak shahih dari nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya  beliau menjahrkannya, dan tidak ada dalam kitab-kitab shahih dan  kitab-kitab sunan hadits shahih yang menegaskan tentang menjahrkannya,  dan hadits-hadits yang menegaskan tentang menjahrkannya seluruhnya  dha’if bahkan palsu. Oleh karena ini Imam Daruqutni tatkala mengarang  kitab tentang yang demikian, dikatakan kepadanya : “Apakah tentang yang  demikian ada hadits yang shahih ?”, maka beliau mengatakan : “Adapun  dari nabi صلى الله عليه وسلم maka tidak ada, dan adapun dari sahabat  maka diantaranya ada yang shahih dan diantaranya ada yang dha’if”.</p>
<p>Adapun riwayat yang shahih tentang  menjahrkan bismillah dari sebagian sahabat maka dipahami darinya bahwa  yang demikian dalam rangka taklim yakni pemberitahuan bahwa membaca  bismillah merupakan perkara yang disyariatkan dalam shalat, bukan  menunjukkan bahwa menjahrkan tersebut disyari’atkan untuk dilakukan  terus-menerus, sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikhul islam Ibnu  Taimiyah di  dalam “ MAJMU’ AL FATAWA (22/274)”.</p>
<p><strong>والحمد  لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</strong></p>
<p><strong>Buletin Ta&#8217;zhim As-Sunnah Edisi  15/IV/1 Jumadal Ula 1431 H</strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftnref1">[1]</a> .  HR.BUKHARI (756), dan MUSLIM (394)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftnref2">[2]</a> .  HR..AN-NASA’I DAN AL-HAKIM, lihat “SIFAT SHALAT, hal : 97”</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftnref3">[3]</a> .  Yakni baca’an  bismillah di dalam shalat.</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftnref4">[4]</a> . HR.  MUSLIM ,no: 399</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftnref5">[5]</a> . HR.  MUSLIM ,no: 399</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftnref6">[6]</a> . HR.  AN NASA’I , no: 906</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html#_ftnref7">[7]</a> .  HR.AN NASA’I ,no: 907</p>
<p>http://tazhimussunnah.com/buletin/83.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/393/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/393/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/393/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=393&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/03/dalil-ahlus-sunnah-tentang-men-sirr-kan-bismillah-dalam-shalat-jahriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/park-bench-autumn.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">park-bench-autumn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimana Allah ?</title>
		<link>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/03/dimana-allah/</link>
		<comments>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/03/dimana-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 00:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pemburu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aruhuriyya.wordpress.com/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Abu Anas Abdullah Al-Medani الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد Sepintas sebahagian orang ketika mendengar pertanyaan ini akan menganggap ini adalah pertanyaan yang sepele dan remeh dan tidak perlu untuk ditanyakan. Akan tetapi kalau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=390&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/awan.jpeg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-398" title="awan" src="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/awan.jpeg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Oleh  : Abu Anas Abdullah Al-Medani</p>
<p><strong>الحمد  لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسول الله، وأشهد أن لا إله  إلا  الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد</strong></p>
<p>Sepintas sebahagian orang ketika  mendengar pertanyaan ini akan menganggap ini adalah pertanyaan yang  sepele dan remeh dan tidak perlu untuk ditanyakan. Akan tetapi kalau  kita kaji lebih dalam, akan kita ketahui bahwasannya ini adalah  pertanyaan yang agung dan sangat penting ,sebab  pertanyaan ini  berkaitan dengan permasalahan <em>ma’rifatullah</em> ( mengenal Allah )  yang wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui tentang Rabbnya Allah  سبحان وتعالى, mengetahui tentang nama- nama-Nya dan sifat- sifat-Nya  sesuai dengan apa yang Dia kabarkan kepada kita di dalam Al Qur’an dan  juga yang dikhabarkan oleh nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam  hadits- haditsnya ,dan mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib  ditunaikan oleh hamba-hamba-Nya.</p>
<p><span id="more-390"></span></p>
<p>Dan juga pertanyaan ini adalah  pertanyaan yang dijadikan oleh Rasulullah  صلى الله عليه وسلم sebagai  penguji dan patokan untuk menghukumi  seseorang sebagai  mukmin.</p>
<p>Imam Muslim di dalam “ SHAHIH” nya,  meriwayatkan sebuah hadits dari Mu’awiyyah bin Al Hakam As Sulami رضى  الله عنه ,dia mengatakan :</p>
<p>”Aku pernah menampar seorang budak  perempuanku, kemudian aku khabarkan hal tersebut kepada rasulullah صلى  الله عليه وسلم ,maka beliau menganggap besar perkara yang demikian  terhadapku, sehingga aku berkata kepada beliau :<em> “Ya rasulullah,  apakah aku harus membebaskannya?”, </em>beliau mengatakan :<em> “Bawa  terlebih dahulu dia kepadaku</em>!”, maka aku bawa budak perempuanku  tersebut kepada rasulullah صلى الله عليه وسلم , kemudian beliau berkata  kepadanya :<em> <strong>“Dimana Allah?”</strong>, </em>budak tersebut  menjawab :<em>” <strong>Di  langit</strong>”, </em>rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya  kembali :<em>” Siapa aku ?”, </em>budak tersebut menjawab :<em> “Engkau  rasulullah” ,</em> maka rasulullah صلى الله عليه وسلم mengatakan :<em>”  Bebaskan dia sesungguhnya dia seorang mukmin”</em><strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn1">[1]</a></strong> .</p>
<p>Lihatlah bagaimana rasulullah صلى الله  عليه وسلم menghukumi budak tersebut sebagai seorang mukmin ketika dia  menyatakan bahwasannya Allah سبحان وتعالى ada di langit bersamaan dengan  pengakuannya bahwa beliau صلى الله عليه وسلم adalah Rasulullah.  Sehingga nampak di sini bahwasannya tidaklah cukup seseorang dinyatakan  sebagai  mukmin setelah dia meyakini bahwa nabi kita Muhammad صلى الله  عليه وسلم adalah rasulullah sampai dia meyakini bahwa Allah سبحان وتعالى  ada di langit.</p>
<p>Akan tetapi kalau kita sodorkan  pertanyaan ini kepada kaum muslimin yang ada sekarang, akan kita  dapatkan kebanyakan mereka tidak menjawab dengan jawaban yang tepat.  Mereka akan menjawab dengan jawaban yang berbeda dengan jawaban budak  perempuan tersebut, dengan mudahnya lisan-lisan mereka akan mengatakan “  Allah ada di mana- mana !” atau dengan ungkapan yang lain yang intinya  tidak mengakui dan tidak menetapkan bahwa Allah سبحان وتعالى ada di  langit. Padahal di hadapan mereka ada Al- Qur’an yang menjelaskan dengan  penjelasan yang lebih dari cukup tentang penetapan yang demikian.  Apalagi hal tersebut  disokong dengan hadits-hadits yang shahih yang  banyak dan ditambah lagi dengan perkataan para sahabat رضى الله عنهم dan  para tabi’in serta ‘ulama dari kalangan mazhab yang empat dan selain  mereka, yang  sedikitpun tidak akan menimbulkan keraguan di hati seorang  mukmin yang masih bersih hatinya dan selamat fithrahnya bahwa Rabbnya (  Allah سبحان وتعالى ) ada di langit, <em>istiwa’</em><strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn2">[2]</a></strong> di atas Arsy- Nya.</p>
<p>Adapun dalil dari Al-Qur’an diantaranya  firman Allah سبحان وتعالى  di dalam surat Yunus ayat 3:</p>
<p><strong>إِنَّ  رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ  أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Rabb kalian adalah  Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian dia  Istiwa’ di atas &#8216;Arsy “</em></p>
<p>Dan juga Allah سبحان وتعالى  berfirman  dalam surat Thaha ayat 5 :</p>
<p><strong>الرَّحْمَنُ  عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</strong></p>
<p><em>“ Ar Rahman di atas ‘Arsy istiwa’ “</em></p>
<p>Berkata Imam Abu Hanifah رحمه الله  : <em>“Barangsiapa  yang mengatakan : saya tidak tau apakah Rabb saya di langit atau di  bumi, maka dia kafir, karena Allah Ta’ala mengatakan </em><em>:</em><em> </em></p>
<p><strong>الرَّحْمنُ عَلى العَرْشِ  اسْتَوَى</strong></p>
<p><em>“ Ar Rahman di atas ‘Arsy istiwa’ “</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dan ‘Arsy- Nya di atas langit  ketujuh. Barangsiapa yang mengatakan : sesungguhnya Dia di atas ‘Arasy,  akan tetapi saya tidak tahu apakah Arsy tersebut di langit atau di bumi,  maka dia kafir karena dia mengingkari bahwasannya Dia di langit.  Barangsiapa yang mengingkari bahwa Dia di langit maka dia kafir, karena  Allah Ta’ala lah yang maha tinggi, dan dia diseru ke arah yang tinggi  bukan ke arah yang rendah”. </em><strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn6">[3]</a></strong>.</p>
<p>Demikian juga Allah سبحان وتعالى   berfirman di dalam surat Al- Mulk: 16- 17:</p>
<p><strong>أَأَمِنتُم  مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ #  أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِباً  فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ</strong></p>
<p><em>“Apakah kamu merasa aman terhadap  (Allah) yang berada di langit bahwa dia akan menjungkir balikkan bumi  bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, Atau  apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang ada di langit bahwa dia  akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui  bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”</em></p>
<p>Juga Allah سبحان وتعالى  berfirman dalam  surat Ghaafir ayat: 36- 37 :</p>
<p><strong>وَقَالَ  فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحاً لَّعَلِّي أَبْلُغُ  الْأَسْبَابَ #  أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى  وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ  كَاذِباً</strong></p>
<p><em>“Dan berkatalah Fir&#8217;aun: &#8220;Hai Haman,  buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya Aku sampai ke  pintu-pintu, <strong>(yaitu)  pintu-pintu langit, supaya Aku dapat melihat Rabbnya Musa</strong> dan Sesungguhnya Aku memandangnya seorang pendusta”</em></p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwasannya Nabi  Musa عليه السلام mendakwahkan kepada Fir’aun bahwa Rabbnya ( Allah سبحان  وتعالى ) ada di langit, dan Fir’aun merasa ragu dengan demikian dan  berusaha mengingkari dan mendustakan Nabi Musa عليه السلام dakwahan  beliau tersebut.</p>
<p>Maka orang-orang yang menetapkan bahwa  Allah سبحان وتعالى ada di langit  aqidahnya (keyakinannya) sama dengan  Nabi Musa عليه السلام . Adapun orang yang ragu dengan demikan maka  aqidahnya sama dengan aqidah Fir’aun. Siapakah yang lebih benar dan  lebih baik ; seseorang yang beraqidah sama dengan aqidah seorang nabi  dari kalangan nabi Allah ataukah seseorang yang beraqidah sama dengan  Fir’aun ?!.</p>
<p>Dan Allah سبحان وتعالى juga berfirman  tentang para malaikat dan makhluk- makhluk-Nya yang taat kepada-Nya yang  ada di langit dan di bumi bahwasannya mereka :</p>
<p><strong>يَخَافُونَ  رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ</strong></p>
<p><em>“Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka dan  melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”.</em><strong>(An-  Nahl: 50)</strong><em> </em></p>
<p>Demikian juga  Allah سبحان وتعالى  berfirman tentang pengangkatan nabi Isa عليه السلام ke langit :</p>
<p><strong>إِذْ  قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ</strong></p>
<p><em>“(ingatlah), ketika Allah berkata:  &#8220;Hai Isa, Sesungguhnya Aku akan menidurkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku “. </em><strong>(Ali-  Imran : 55 )</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Juga Allah سبحانه وتعالى berfirman:</p>
<p><strong>سَبِّحِ  اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى</strong></p>
<p><em>“Bertasbihlah dengan menyebut nama  Rabb kamu yang maha tinggi”. </em><strong>(Al-A’la : 1).</strong><em> </em></p>
<p>Lihatlah, bagaimana Allah سبحانه وتعالى  mensifati dirinya dengan Maha Tinggi. Dan tidaklah Allah سبحانه وتعالى  dikatakan Maha Tinggi kalau Dia berada di bawah, atau ada makhluk yang  lebih tinggi dari-Nya.</p>
<p>Dan Allah سبحانه وتعالى juga berfirman :</p>
<p><strong>إِنَّا  أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً  لَّهُ الدِّينَ</strong></p>
<p><em>“Sesunguhnya kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al  Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan  memurnikan peribadahan kepada-Nya”.</em><strong>(Az-Zumar : 2)</strong></p>
<p>Pada ayat ini,Allah Ta’ala mengkhabarkan  bahwa Dialah yang telah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah صلى الله  عليه وسلم dengan membawa kebenaran. Dan perbuatan “menurunkan” tidak  akan terjadi kecuali dari atas ke bawah. Maka ini menunjukkan bahwa  Allah Ta’ala berada di atas.</p>
<p>Demikian juga Allah سبحانه وتعالى   berfirman :</p>
<p><strong>إِلَيْهِ  يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ</strong></p>
<p><em>“ Kepada-Nya lah naik ucapan-ucapan yang baik, dan amal  shalih Dia lah yang mengangkatnya”.</em><strong>(Faathir : 10).</strong><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwa  ucapan-ucapan yang baik berupa zikir dan sebagainya akan naik  kepada-Nya, dan bahwasannya amalan yang shalih Dialah yang akan  mengangkatnya. Ini juga menunjukkan tingginya Allah سبحانه وتعالى ,  karena kata-kata “naik” tidak akan terjadi kecuali dari bawah ke atas.</p>
<p>Adapun dalil dari hadits, diantaranya  perkataan Rasulullah صلى الله عليه وسلم  dalam hadits yang diriwayatkan  oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri رضى الله عنه dimana  Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda :</p>
<p><strong>أَلَا  تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ </strong><strong>مَنْ فِي السَّمَاء</strong><strong>ِ  يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ مَسَاءً وَصَبَاحًا</strong></p>
<p><em>“ Apakah kalian tidak percaya  kepadaku sementara aku adalah orang yang dipercaya (oleh Allah ) yang  ada di langit, datang kepadaku khabar dari langit sore hari dan pagi  hari “</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn3"><strong>[4]</strong></a><em>.</em></p>
<p>Dan dari Abu Hurairah رضى الله عنه   bahwasannya Rasulullah صلى الله عليه وسلم  berfirman :</p>
<p><strong>الْمَيِّتُ  تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا قَالُوا  اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ </strong><strong>الْمُطْمَئِنَّة</strong><strong>ُ  كَانَتْ </strong><strong>فِي الْجَسَدِ الطَّيِّب</strong><strong>ِ  اخْرُجِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ  غَضْبَانَ . فيقول ذالك حتى يعرج</strong><strong> بِهَا إِلَى السَّمَاءِ  الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ</strong></p>
<p><em>“Setiap mayit akan dihadiri oleh  malaikat, apabila dia seorang yang shalih, malaikat akan berkata  kepadanya :“ Keluarlah wahai jiwa yang tenang yang ada di dalam jasad  yang baik, keluarlah dalam keadaan terpuji dan bergembiralah dengan  kelapangan dan wewangian, dan Rabb kalian dalam keadaan tidak murka.  Maka malaikat tersebut mengatakan demikian sampai dibawa naik mayat tersebut ke langit yang berada  padanya Allah </em><em>“</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn4"><strong>[5]</strong></a><em>.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan dari Abu Hurairah رضى الله عنه , dia  mengatakan:” Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :</p>
<p><strong>وَالَّذِي  نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا  فَتَأْبَى إِلَّا كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا </strong><strong>حَتَّى  يَرْضَى عَنْهَا</strong></p>
<p><em>“ Demi (Allah) yang jiwaku berada di  tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya,  kemudian istrinya tidak memenuhi panggilannya, kecuali pasti (Allah)  yang ada di langit akan murka kepadanya sampai suaminya ridho  kepadanya”.(HR.MUSLIM)</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn5"><strong>[</strong></a><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn5"><strong>6]</strong></a></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan juga hadist Muawiyyah bin Al Hakam  yang telah berlalu, yakni pertanyaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم  kepada seorang budak perempuan tentang dimana Allah, merupakan dalil  yang sangat jelas menunjukkan bahwasannya Allah سبحان وتعالى  ada di  langit.</p>
<p>Demikian juga kisah Isra’ dan Mi’raj, <strong>dimana  Rasulullah </strong><strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> </strong><strong>menemui  Allah </strong><strong>سبحان وتعالى</strong><strong> di langit ketujuh  di Sidrhatul Muntaha</strong> untuk menerima perintah shalat yang awal  mulanya lima puluh waktu sehari semalam dan terus berkurang hingga  menjadi lima waktu sehari semalam<strong><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn6">[7]</a>.</strong></p>
<p>Adapun riwayat dari para sahabat,  diantaranya riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab  “TARIKH”nya (1/201-202 no : 623) dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar  رضى الله عنه ,dia mengatakan :</p>
<p>“ Tatkala meninggal Rasulullah صلى الله  عليه وسلم masuklah Abu Bakar رضى الله عنه  , kemudian beliau  membungkukkan badannya dan mencium kening rasulullah صلى الله عليه وسلم   dan mengatakan <em>: “Sungguh keadaanmu sangat baik ketika hidup dan  matimu”, </em>kemudian beliau berkata kembali :<em> “ Barangsiapa yang  menyembah Muhammad maka Muhammad telah mati , dan barangsiapa yang  menyembah Allah, maka Allah  yang ada di langit hidup tidak akan mati “</em></p>
<p>Dalam shahih Bukhari dari Anas bin Malik  رضى الله عنه  beliau mengatakan :</p>
<p>“ Adalah Zainab  رضى الله عنها berbangga  terhadap istri- istri rasulullah صلى الله عليه وسلم  yang lain ,dia  mengatakan:<em> “ Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian  sementara aku dinikahkan oleh Allah </em><em>سبحان وتعالى</em><em> </em><em>dari atas langit ketujuh</em><em>”</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn7"><strong>[8]</strong></a><em>.</em></p>
<p>Adapun perkataan para ulama’ setelah  mereka dari kalangan tabi’in dan selainnya, diantaranya perkataan  Sulaiman At-Tamimi رحمه الله  seorang tabi’in : <em>“ Kalau seandainya  aku ditanya, dimana Allah ? pasti aku akan menjawab : di langit !</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn8"><strong>[9]</strong></a> <em>“.</em></p>
<p>Berkata Imam Al Auza’i رحمه الله  <em>:”  kami mengatakan –sementara para tabi’in masih banyak yang hidup- : Sesungguhnya Allah </em><em>عز وجل</em><em> di atas ‘Arsy- Nya</em><em>,  dan kami beriman dengan apa- apa yang datang di dalam sunnah tentang  sifat- sifat- Nya “</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn9"><strong>[10]</strong></a><em>.</em></p>
<p>Berkata Imam Malik رحمه الله : <em>“ Allah berada di langit dan  ilmunya mencakup segala tempat, tidak ada sesuatupun yang luput dari  ilmu Allah”</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn10"><strong>[11]</strong></a><em>.</em></p>
<p>Berkata ‘Ali bin Al Hasan bin Saqiq, aku  berkata kepada Abdullah bin Al Mubarak رحمه الله : <em>“Bagaimana kita  mengenal Rabb kita ?, dia berkata : “ Rabb kita berada di langit ketujuh di atas ‘Arsy- Nya,  dan kita tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Jahmiyah</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn11"><strong>[12]</strong></a><em> bahwa Dia ada di mana-mana  di atas bumi”. </em>Kemudian disampaikan  perkataan ini kepada Imam Ahmad bin Hambal رحمه الله ,maka beliau  mengatakan<em> : “ Demikanlah keyakinan yang ada pada kami ( yakni  sebagaimana perkataan Abdullah bin Al Mubarak )”</em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn12"><strong>[13]</strong></a><em>.</em></p>
<p>Berkata Imam Syafi’i رحمه الله : <em>“  Perkataan yang merupakan sunnah, yang aku berada padanya dan  berpandangan dengannya dan yang aku melihat mereka seperti Sufyan, Malik  dan selain mereka berpandangan dengannya adalah bersaksi bahwa tidak  ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah  rasulullah, dan bahwasannya  Allah </em><em>سبحان  وتعالى</em><em> di atas  ‘Arsy- Nya di  langit-Nya </em><em>“ </em><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftn13"><strong>[14]</strong></a><em>.</em></p>
<p>Inilah diantara dalil-dalil dari dari  sekian banyak dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah dan juga perkataan  para sahabat dan ulama-ulama setelah mereka yang menunjukkan dan  menetapkan suatu aqidah dan keyakinan yang merupakan aqidah islam bahwa Allah سبحان وتعالى berada di langit istiwa’ di atas  ‘Arsy-Nya; yang tidak sepantasnya bagi seorang muslim setelah  mengetahuinya masih ada keraguan tentang hal tersebut dan meyakini  selainnya. Kita memohon kepada Allah سبحان وتعالى agar memberikan  hidayah kepada kita dan kepada kaum muslimin seluruhnya kepada aqidah  yang benar dan agar dijauhkan dari aqidah yang sesat dan menyimpang dari  aqidah islam. Amiin.</p>
<p><strong>والحمد  لله رب العالمين، وصلى الله سلم علي نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</strong></p>
<p><strong>Rujukan  bacaan :</strong></p>
<p>1. Ma&#8217;arijul Qabul karya Asy  Syaikh Hafidz bin Ahmad Al Hakami rahimahulloh</p>
<p>2. Syarah ‘Aqidah Ath-Thahawiyah  karya Ibnu Abil Izz Al Hanafi<strong> </strong>rahimahulloh</p>
<p><strong>Buletin Ta&#8217;zhim As-Sunnah Edisi  13/IV/19 Rabi&#8217;uts Tsani 1431 H</strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref1">[1]</a>.  HR.MUSLIM NO: 537</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref2">[2]</a> . Istiwa’ dalam bahasa apabila ditambahkan dengan kata “ ‘ala ( di atas  )” maknanya ‘ala wa irtafa’a yakni berada di tempat yang tinggi  sebagaimana tafsiran dari Abu ‘Aliyah dan Mujahid</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref3">[3]</a> Ijtima&#8217; Al Juyus Al Islamiyah, Hal. 74 (Cet. Daarul Atsar)</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref3">[4]</a> HR.BUKHARI : 4351 ,MUSLIM : 1064</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref4">[5]</a> HR.AHMAD (8/414 NO: 8754), IBNU MAJAH (2/1426 NO: 4268), hadits shahih  dishahihkan oleh syekh albani</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref5">[6]</a> . N0:1436</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref6">[7]</a> .Hadits-hadits tentang kisah isra’ dan mi’raj terdapat dalam shahihain  dan selainnya</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref7">[8]</a>.  HR.BUKHARI NO: 7420</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref8">[9]</a> .Diriwayatkan  oleh al lalika’i (3/444 no:671)</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref9">[10]</a> .lihat “ MA’ARIJUL QOBUL (1/HAL:235)”</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref10">[11]</a> . Dikeluarkan oleh imam al lalika’i  no: 673</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref11">[12]</a> . Suatu kelompok yang disandarkan kepada pencetusnya  “ Jahm bin  Shofwan” yang mengingkari seluruh nama- nama dan sifat- sifat Allah عز  وجل , dan telah memfatwakan kebanyakan ulama tentang kafirnya Jahmiyah  dan keluarnya dari ahlu qiblat ( dari kelompok kaum musalimin ). Lihat “  MA’ARIJUL QOBUL : 1/ HAL : 155 !”.</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref12">[13]</a> . Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam “ ASSUNNAH NO:22”</p>
<p><a href="http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html#_ftnref13">[14]</a>.  Diriwayatkan oleh Al Hakari di dalam “ AQIDAH ASSYAFI’I “ lihat “  MA’ARIJUL QOBUL (1/HAL:242)”.</p>
<p>http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aruhuriyya.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aruhuriyya.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aruhuriyya.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aruhuriyya.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aruhuriyya.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aruhuriyya.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aruhuriyya.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aruhuriyya.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aruhuriyya.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aruhuriyya.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aruhuriyya.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aruhuriyya.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aruhuriyya.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aruhuriyya.wordpress.com/390/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aruhuriyya.wordpress.com&amp;blog=10340245&amp;post=390&amp;subd=aruhuriyya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/11/03/dimana-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">aruhuriyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aruhuriyya.files.wordpress.com/2010/11/awan.jpeg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">awan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
