PLURALISME, RACUN-MANIS AGAMA

Kepluralan manusia adalah wajar, dan ini terjadi tidak atas campur tangan manusia. Perbedaan manusia dari segi fisik pun jelas tampak, apalagi dalam sesuatu yang tidak bisa diindera, seperti pemikiran. Tetapi plural oleh sebagian orang disalah artikan, mereka menambahkan ‘isme’ di belakang plural à pluralisme.

Produk paling besar pluralisme ini adalah anggapan bahwa semua agama sama. Seperti yang diucapkan Hasan Al-Banna, “nata’awan fima tafakna wa na’dziru ba’dina ba’don fi makhtalahna” (kita saling kerjasama dengan apa yang kita sepakati dan kita hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda). Tujuannya adalah ingin menyatukan berbagai golongan / agama dalam suatu wadah, yang biasa didalihkan dengan ‘persatuan’. Kalau dipikir-pikir emang masuk akal sih, iya emang masuk akal kalau dipikir sebatas akal.

Pengakuan atas sesuatu yang salah, ini berhubungan dengan tingkat loyalitas kita kepada Allah dan kebencian terhadap sesuatu yang dibenci Allah. Bagaimana mungkin kalau kita yakin kita benar, sedangkan dalam waktu yang bersamaan kita mengakui ‘kebenaran’ lain ?

Sebagai perumpamaan, si A bertanya pada si B dan si C tentang berapa umur si D, si B menjawab bahwa umur si D adalah 18, sedangkan si C menjawab bahwa umur si D adalah 81. si A kebingungan, lantas siapa yang benar? Jawabannya hanya 2 kemungkinan; pertama – salah satu benar, kedua – kedua-duanya salah. Apa mungkin kedua-duanya benar? Survey membuktikan….ding…dong…

Sebagaimana firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…”
(QS Al-Baqarah : 256). Inipun menjadi dalil bagi kita untuk tidak memaksa dalam mendakwahkan Islam (Toleransi), karena setiap orang punya pilihan (lihat QS Asy-syams : 8-9).

Tapi di tangan para pluralis, toleransi adalah dalil utama untuk mengatakan kalau semua agama sama, dan mereka juga membawa-bawa nama kebebasan. Perilaku meremehkan (tafrith) dan melebih-lebihkan makna toleransi oleh para pluralis ini menunjukkan kalau mereka tidak benar-benar cinta pada apa yang disebut kebenaran. Mereka menganggap kalau benar dan salah semuanya adalah benar!!! Logika yang seharusnya perlu diluruskan, masak kita mau minum susu yang dicampur dengan air got? [wah, enak nih!].

Ada beberapa indikasi untuk mengukur sedalam mana kita cinta terhadap apa yang dicintai-Nya, dan kita benci dengan apa yang dibenci-Nya. Kita akan menjadi pluralis jika :
1. Ridha terhadap kekafiran orang kafir serta tidak mengkafirkan mereka atau ragu atas kekafiran mereka atau membenarkan semua agama kafir.
2. menyerupai kebiasaan, akhlak dan mengikuti mereka, tidaklah seorang menyerupai orang kafir melainkan karena ia mangagumi mereka, sedangkan Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
3. meminta bantuan dan mempercayai mereka serta menjadikan mereka sebagai penolong.
4. membantu dan mendukung mereka.
5. turut andil dalam memeriahkan hari-hari besar mereka, baik menghadirinya atau memberikan ucapan selamat.
6. memberi nama dengan nama-nama mereka.
7. bepergian ke negeri mereka dengan tanpa keperluan, seperti berwisata / tamasya.
8. memintakan ampun untuk mereka / memintakan rahmat jika ada diantara mereka yang meninggal.
9. bertoleransi dalam masalah agama.
10. mengambil hukum dan aturan mereka dalam mengatur negara dan mendidik rakyatnya.
Ini adalah beberapa indikasi adanya loyalitas kepada orang-orang kafir.
(Abdullah bin Shalih al-Fauzan, Syarah 3 Landasan Utama, hal 64-65).

Saya yakin kalau memang dia seorang pluralis, ia pasti punya lebih dari satu indikasi, yang menunjukkan betapa lemahnya dia dalam keimanan. Para ulamapun telah mentahzir mereka, dan keputusan telah dibuat, bahwa mereka adalah ahlul bid’ah dan termasuk golongan sesat.
Kita lihat bagaimana Allah menggambarkan mereka :
“…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran : 7).

Orang-orang pluralis selalu mengedepankan akal mereka dalam menyelesaikan setiap masalah, sebagaimana yang mereka lakukan dalam menyikapi perbedaan agama. Agama –kalau kita lihat lebih seksama- dianggap sebagai salah satu sumber konflik yang selalu memakan korban yang tidak sedikit. Merekapun (pluralis) menjadi phobia terhadap agama, agama=masalah. Solusi yang bisa mereka pikirkan dengan akal mereka yang lemah adalah dengan cara merelatifkan kebenaran, mereka juga dengan berani dan lancang mengatakan bahwa mereka berhak menafsirkan ‘maksud Tuhan’. Sadarlah wahai pluralis, kau bukan Nabi ataupun Rasul, sadarlah wahai orang-orang yang tidak berakal ! (gimana mau sadar? Akal aja gak punya. Yah..semoga Allah memberi hidayah.)

Sebenarnya aneh dengan para pluralis ini, mereka ngomong kalau semua agama benar, tapi mereka kok masih ngaku-ngaku sebagai pemeluk salah satu agama? Yah sebut saja Ulil Abshar Abdalla, dengan mulut laknatnya telah berani menodai kesucian Islam, mencari-cari ta’wil ayat-ayat Allah dengan semau akalnya (ingat QS Ali Imran : 7), dan berusaha membengkokkan jalan kebenaran.

Kita sebagai orang beriman telah dituntun Allah dalam menghadapi orang orang seperti itu, “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain…” (QS Al-An’am : 68)

THE LAST
Sebagai seorang Muslim saya ingin memperingatkan kalian (pluralis) dengan ayat Allah, seandainyapun Allah tidak memberi hidayah pada kalian, maka itu urusan kalian, aku tidak akan disuruh untuk memikul dosa kalian.

Ini sepucuk surat dari Allah,

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, ‘salaamun ‘alaykum’. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan diantara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur-an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. Katakanlah, “sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah”. Katakanlah, “aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.”
(QS Al An’am : 54-56)

http://renggap.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s