Ketika Harry Potter “Menyihir” Aqidah Umat (Lagi)

Oleh : Wira Mandiri Bachrun

Harry Potter kembali lagi! Bagian pertama dari seri terakhir film siswa sekolah sihir Hogwarts ini kini kembali menyihir penduduk bumi, tidak terkecuali kaum muslimin. Kita saksikan sendiri mereka berduyun-duyun mengantri di bioskop-bioskop, mendownload atau menikmati DVD bajakannya di rumah. Tapi di balik ini semua, tahukah Anda kalau sihir adalah kekafiran yang besar, yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam?

Para ulama memasukkan sihir sebagai salah satu pembatal keislaman terbesar. Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan dalam kitab beliau Nawaqidul Islam,

“(Pembatal Keislaman) yang ketujuh: Sihir, termasuk sharf dan ‘athaf.[1] Dalilnya adalah firman Alla ta’ala,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ

Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah: 102).”

Asy Syaikh Shalih Al Fauzan berkata,

“Perbuatan sihir ini adalah kufur, dalilnya firman Allah ta’ala,

وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Akan tetapi syaithan-syaithan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al Baqarah: 102)

Mempelajari sihir dan mengajarkannya adalah kufur kepada Allah dan termasuk jenis kemurtadan, maka tukang sihir adalah murtad. Jika dia seorang mu’min kemudian berbuat sihir sungguh dia telah murtad dari agama Islam dan dihukum bunuh (oleh pemerintah muslim –pent) tanpa dimintai taubat terlebih dahulu menurut sebagian ulama. Hal ini karena walaupun zhahirnya dia telah bertaubat, namun dia tetap menipu manusia. Ilmu sihirnya akan tetap muncul dari hatinya walaupun dia telah bertaubat.

Dalilnya firman Allah ta’ala,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ

Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al Baqarah: 102) [2]

Al Lajnah Ad Daimah, sebuah komite tetap pengkaji fatwa dan ilmu keislaman di Kerajaan Saudi Arabia mengatakan,

“Dan pendapat yang shahih bahwa penyihir dibunuh sebagai hukuman hadd karena kemurtadannya. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad rahimahullah. Penyihir dihukum bunuh karena kekafiran dan sihir yang ada padanya secara mutlak.

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia. (Al Baqarah: 102)

Ayat ini menunjukkan kafirnya pelaku sihir secara mutlak.” [3]

Setelah jelas bagi kita kafirnya perbuatan sihir, lalu ada yang menyanggah, “Kita sekarang tahu kalau sihir itu kekafiran, tapi bukankah kita cukup dewasa untuk tahu bahwa ini semua hanya fantasi, imajinasi JK Rowling yang kemudian dituangkan menjadi film? Atraksi sihirnya pun hanya trik-trik yang dilahirkan oleh special effect, bukan karena mantera-mantera sihir si Harry? Sudahlah, jangan terlalu ekstrim… Anggap saja ini sebagai hiburan…”

Maka kita jawab, itu semua tidak menafikan bahaya menonton film ini. Perlu Anda ketahui bahwa iblis tidaklah menggoda anak Adam dengan langsung menarik mereka kepada kekafiran, tapi sedikit demi sedikit Anda akan dijerat, ditarik ke dalam perbuatan dosa, sampai pada akhirnya tanpa Anda sadari Anda terjatuh dalam kesyirikan.

Al Imam Al Qurthubi berkata di dalam tafsir beliau terhadap firman Allah ta’ala,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (An Nisa: 140)

Ayat ini menunjukkan wajibnya menjauhi pelaku maksiat apabila dia menampakkan kemungkaran secara zhahir karena barangsiapa yang tidak menjauhi mereka maka sungguh dia telah ridha dengan perbuatannya. Keridhaan terhadap kekufuran adalah kekufuran juga. Allah berfirman,

إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ

“Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (An Nisa: 140)

Ridha kepada maksiat adalah kemaksiatan pula. Oleh karena itu pelaku dan orang yang ridha dihukumi dengan hukuman pelaku maksiat sampai mereka seluruhnya binasa. ” [4]

Demikian pula Asy Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi berkata,
“Sihir adalah kesyirikan. Barangsiapa yang melakukan sihir dengan mempelajarinya, mengajarkannya, memperbuatnya atau ridha dengannya maka dia kafir. Karena ridha dengan kekafiran adalah kekafiran pula. Barangsiapa yang ridha dengan kesyirikan, dia pun musyrik.”[5]

Kalau sudah jelas begini, bukankah lebih baik kita berhati-hati dan menjaga aqidah kita? Kita memohon kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari perkara-perkara yang merusak aqidah kita dan agar Allah meneguhkan hati kita di atas agama ini.

CATATAN KAKI:

[1] Sharf adalah sihir yang membuat seseorang menjauh dari pasangannya. Setelah tersihir dia seolah-seolah melihat pasangannya dalam bentuk yang jelek sehingga dia menjauhi pasangannya. Adapun ‘athaf sebaliknya. Sihir ini membuat orang jatuh hati kepada orang lain, kalau di negeri kita sering disebut guna-guna. (Lihat kitab Tabshiratul Anam bis Syarhi Nawaqidil Islam, Asy Syaikh Abdul Aziz Ar Rojihi, hal 43-44)

[2] Syarah Nawaqidil Islam, hal 28

[3] Fatawa Lajnah Daimah 1/369, no 4804, melalui perantaraan Al Qaulul Mufid karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Yamani, hal. 138.

[4] Tafsir Al Qurthubi 5/418, melalui perantaraan Masa’il ‘ala Nawaqidul Islam, Abu Abdillah Nashir Al Adeni hal. 72.

[5] Tabshiratul Anam bis Syarhi Nawaqidil Islam (hal.32-33)

—————————-
Wira Mandiri Bachrun
Darul Hadits, Syihir – Hadramaut
Sabtu, 4 Dzulhijjah 1431 H/ 20 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s